Cegah Bullying, Guru BK Punya Program Inovatif Terkait Pengamalan P5

benuanta.co.id, TARAKAN – Video aksi perundungan atau bullying siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang belakang ini viral terjadi di Kota Tarakan mengundang perhatian publik termasuk pengamat pendidikan.

Salah satu pengamat pendidikan sekaligus Sekretaris Jurusan (Sekjur) Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Borneo Tarakan (UBT), Riski Sovayunanto, S.Psi., M.Si menyayangkan terjadinya hal tersebut di kalangan pelajar SMP yang masih remaja.

“Saya sempat lihat itu harusnya tidak terjadi seperti itu. Pembelajaran kita sudah ada profil pelajar Pancasila (P5),” ujar Riski, Kamis (11/1/2024).

Ia menjelaskan pada pelajaran P5 sekolah harus mengajarkan anak untuk mampu berpikir kritis salah satunya. Di mana berpikir kritis berkaitan dengan identifikasi masalah. Harusnya konflik itu tidak terjadi lagi ke siswa, walaupun 80 persen ke atas memungkinkan terjadi perkelahian.

Baca Juga :  Perjuangan Guru Honorer Jadi PPPK, Gaji Rp 400 Ribu Kini Rp 4 Jutaan

Lanjutnya, siswi tersebut masih dalam kategori remaja yang emosinya masih tidak stabil, kontrol dirinya kurang pemecahan masalahnya (problem solving) tidak begitu baik. Menurutnya, Ketiga hal tersebut harus dikembangkan walaupun semakin berkembangnya usia semakin baik.

“Belum tentu, harus ada kontrol dari sekolah dan intervensi dari orang tua agar masalah seperti ini tidak terjadi. Saya bilang kalau itu terjadi karena faktor yang sudah dijelaskan dan karena faktor yang lainnya kompleks sekali,” ungkapnya.

Hal ini pun tentu tidak luput dari campur tangan guru BK yang ada disekolah. Dikatakan Riski, guru BK harus memiliki program-program yang inovatif tentunya. “Tidak ada satu pun dunia yang mengatasi perundungan atau bullying 90 persen,” tambahnya.

Baca Juga :  Perjuangan Guru Honorer Jadi PPPK, Gaji Rp 400 Ribu Kini Rp 4 Jutaan

Bullying dapat diminimalisir ketika guru BK memiliki program yang inovatif, terkait pembelajaran P5 yang harus diterapkan disekolah, pihak sekolah harus berani keluar dari zona nyaman. Tak hanya itu saja, Guru BK harus menjalankan karakter jadi pembiasaan sehingga kontrol dirinya anak/remaja yang masih rendah berkembang bersamaan dengan baik.

“Sehingga ketika dia ada masalah dia nggak langsung main pukul, bertindak negatif tetapi dia berpikir dulu sehingga ia mengambil jalan tengah untuk konfirmasi dan lain sebagainya. Itu yang harus ditanamkan sebenarnya dari teman teman disekola,” jelasnya

Baca Juga :  Perjuangan Guru Honorer Jadi PPPK, Gaji Rp 400 Ribu Kini Rp 4 Jutaan

Dalam realisasinya, tidak hanya guru BK saja yang bekerja untuk mengaktifkan program-program tersebut namun dibutuhkan keterlibatan stakeholder yang ada di sekolah mulai dari ketua kelas hingga kepala sekolah.

“Silakan Sekolah untuk memberikan waktu khusus untuk guru-guru BK untuk menjalankan programnya secara keseluruhan terkait perundungan, problem solving, kontrol diri dan stabilitas emosi agar mengurangi hal seperti itu,” pungkasnya.(*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2947 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *