Anak Berjualan di Jalanan, Berdampak Buruk pada Mental

benuanta.co.id, TARAKAN – Kota Tarakan mendapatkan Predikat Kota Layak Anak tingkat kelima dengan predikat Pratama. Meski saat ini fenomena anak jalanan berjualan masih menghiasi pusat Kota Tarakan.

Sejak 2021 lalu terdapat 28 anak yang tercatat sebagai anak jalanan. Anak-anak tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Namun, sebagian besar dari mereka memiliki orang tua yang terbilang masih sehat dan bisa bekerja. Mirisnya, anak jalanan ini memaksakan berjualan di jalan dengan risiko yang cukup tinggi untuk memenuhi hasrat ekonomis orang tuanya.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1915 votes

Berbagai macam alasan dilontarkan untuk membenarkan anak dalam usia tumbuh kembang itu berjualan di jalan raya. Seperti yang dirasakan Rio (nama disamarkan) anak usia 9 tahun itu harus berjualan dengan dalih membantu perekonomian orang tuanya.

Ia berjualan kacang hingga jenis kerupuk yang dibandrol dengan harga Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu rupiah. Produk yang ia jual merupakan hasil dari olahan rumahan.

Baca Juga :  Polres Tarakan Gelar Patroli Keamanan Selama Idulfitri 1445 H

“Kalau saya tidak jualan kasihan ibu jaga adek di rumah,” lirih Rio.

Sedikit banyak Rio mengetahui kerasnya kehidupan kota untuk keluarganya. Tetapi, rupiah demi rupiah mampu ia kumpulkan untuk diberikan ke orang tuanya. Meski dagangannya terlihat masih banyak, Rio mengumpulkan pundi rupiah yang lumayan. Per harinya ia mampu mengumpulkan Rp 500 ribu.

Ia juga tak jarang diberi uang oleh orang tuanya, sebagai hadiah dari jerih payah Rio. Ia sudah sempat beberapa kali tertangkap oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), namun ia tak gentar tetap berjualan demi kelangsungan hidupnya.

“Kadang saya takut juga dengan pak polisi-polisi itu. Tapi mau bagaimana lagi kadang juga sembunyi-sembunyi,” lanjutnya.

Rio merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai putra Sulung, ia merasa bertanggung jawab atas adik-adiknya. Akhirnya ia juga mengenal anak lain yang sebaya dengan dirinya turut berjualan. Malangnya, Rio harus putus sekolah karena tak cukup biaya.

Baca Juga :  Buka Puasa Bersama IPPM, Warga Apresiasi Kepemimpinan Gubernur

“Sebenarnya saya juga pengen sekolah seperti teman-teman lain. Tapi uang lebih penting sekarang untuk keluarga saya,” sebutnya.

Pandangan psikolog, anak-anak yang berjualan akan mendapatkan dampak yang buruk dari segi mental. Diyakini anak-anak itu akan mengalami traumatik dan kepercayaan diri yang kurang.

“Perubahan pola pikir juga yang seharusnya belajar di sekolah tapi karena tuntutan mereka jadi lebih cepat dewasa. Serta perubahan perilaku ya kita tidak tahu apa yang dialami dari keluarga atau lingkungan di luar sana,” jelas Psikolog, Hj. Cici Ismuniar, M.Psi kepada benuanta.co.id.

Disinggung soal kewajaran, menurutnya anak-anak ini sudah merasakan mendapatkan uang dari hasil jerih payah sendiri. Justru ini sangat tidak baik karena lebih memprioritaskan mencari penghasilan dibandingkan bersekolah.

“Karena jumlah anak yang jualan itu bukan sedikit lagi. Cukup banyak juga yang saya lihat,” tuturnya.

Dari segi perilaku sendiri anak-anak juga memiliki pola pikir bahwa orang yang didatangi nya harus membeli dagangannya. Hal ini terkesan memaksa karena pola pikir untuk mendapatkan uang tersebut.

Baca Juga :  Momen Idulfitri Pergerakan Masyarakat Meningkat, Kepolisian Utamakan Keselamatan

“Kalau usia-usia segitu ya harusnya memikirkan belajar. Tapi karena lingkungan meminta mereka bekerja ya mau tidak mau mereka lebih dewasa dari anak yang seusia nya. Mereka pasti memikirkan target kalau jualan harus habis,” lanjut Cici.

Target yang dipikirkan oleh anak tersebut ialah jualan yang harus habis. Jika tidak akan mendapatkan punishment. Berdasarkan pengalamannya, punishment yang biasa diberikan ialah jam kerja yang lebih hingga tidak bisa bersekolah.

Terlebih dalam kasus ini, orang tua juga berperan aktif dalam meminta anak untuk berjualan. Inipun juga dapat menjadi beban anak-anak dalam kesehariannya. Dalam kasus ini orang tua dapat dituntut secara hukum dengan hukuman mempekerjakan anak di bawah umur.

“Tertekan untuk membiayai keluarga juga kan. Itu anak bisa menjadi extrovert. Walaupun happy di jalanan tapi sebenarnya ada ke khawatiran hukuman tadi,” pungkas wanita yang juga Pendiri Biro Psikologi Baloy Rakajasa Kaltara.(*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *