Awal Tahun, Harga Cabai di Nunukan Bertahan Rp150 Ribu per Kg

benuanta.co.id, NUNUKAN – Awal tahun 2024, harga komoditi cabai di sejumlah pasar tradisional di Nunukan terpantau masih mahal.

Bahkan berdasarkan data Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Perindustrian dan Perdagangan (DKUMKPP) Nunukan, untuk harga cabai rawit masih berada di angka Rp 150 ribu per kilogramnya.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2010 votes

“Untuk harga data per hari ini (2/1/2024) untuk cabai rawit harganya masih sama dengan harga akhir tahun 2023 lalu yakni berkisar Rp 150 ribu per kilogramnya,” kata Kabid Perdagangan DKUMKPP, Dior Frames kepada benuanta.co.id, Selasa (2/1/2024).

Baca Juga :  Berkat Gubernur Kaltara, Bandara Juwata Tarakan Dapat Extra Flight Arus Balik dari 2 Maskapai

Dikatakannya sementara itu, untuk harga beras masih diharga Rp 16 ribu per kg, kemudian gula pasir Rp 14 ribu, minyak goreng Minyakita Rp 14 ribu sedangkan untuk minyak Bimoli Rp 24 ribu per liternya.

Lanjutnya untuk harga ayam potong masih Rp 48 ribu per kg, ayam kampung Rp 65 ribu. Sementara untuk harga telur ayam masih bertahan di harga Rp 27 ribu per kg.

Baca Juga :  Tim Energi Tarakan Ikuti Lomba TTG dan Posyantek Tingkat Provinsi Kaltara

“Harga telur masih sama dengan sebelumnya, belum ada penurunan ataupun kenaikan harga,” ungkapnya.

Begitu pun dengan harga bawang merah Rp 35 ribu dan bawang putih Rp 30 ribu per kilogram.

Sementara itu, ditambahkan Fungsional Pengendalian Barang, DKUMKPP Nunukan Abdul Rahman mengatakan, kenaikan barang pokok khususnya komoditi cabai lantaran di daerah penghasil yakni Sulawesi Selatan mengalami gagal panen.

“Kalau untuk cabai inikan di suplai dari Sulawesi Selatan, harga di sana naik, jadi harga di sini juga ikut naik,” katanya.

Baca Juga :  Pengeluaran per Kapita Sebulan Daerah Perkotaan untuk Makanan Rp 817.846

Ia pun berharap, awal Januari ini, harga komoditi cabai di Nunukan sudah bisa kembali normal. Hal ini mengingat untuk daerah Sulawesi awal tahun ini akan memasuki musim penghujan.

“Sedangkan untuk produksi cabai lokal hingga saat ini juga belum dapat memenuhi kebutuhan pasar di sini, selain jumlahnya terbatas harga cabai lokal terbilang cukup tinggi dibandingkan cabai asal Sulsel,” pungkasnya.(*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *