benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Tarakan mengungkapkan kebutuhan beras di Kota Tarakan mencapai 66 ton per hari. Bahkan 98 persen beras yang beredar di pasaran dipasok dari luar daerah. Hal ini karenakan hanya ada 13 hektare lahan sawah yang ada di Tarakan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tarakan, Ir. Elang Buana mengungkapkan, Tarakan sempat memiliki 35 hektare lahan sawah di Kota Tarakan, namun menyusut hingga tinggal 13 hektar yang dapat dipertahankan.
“Sawah di Tarakan tidak mencukupi 98 persen beras diambil dari luar. Tetapi kita memang di Tarakan ini keunggulannya hortikultura,” ujar Elang Buana, Rabu (27/12/2023).
Ia juga berencana akan membuka 200 hektar lahan untuk sawah tetapi harus meminjam lahan Dinas Kehutanan. Menurutnya, untuk tanah di Tarakan sebenarnya cocok untuk bersawah karena memiliki cuaca hujan sepanjang tahun namun, petani yang menanam lebih cenderung ke hortikultura.
“Ada lahan lahan pribadi dan pinjam dari dinas kehutanan tetapi di luar 13 hektar itu,” jelasnya.
Ia mengatakan, padi yang ditanam petani di Tarakan cenderung kepada organik dan pupuknya merupakan pupuk kandang. Sebelum ditanami lahan sawah ditebar pupuk kandang sekian ton lalu dibiarkan saja beberapa saat baru ditanami padi.
Lanjutnya, hasil sawah di Tarakan dijualkan seharga Rp 20 ribu per kilogram. Jauh lebih mahal karena menggunakan pupuk organik. “Konsumennya orang Tarakan sendiri. Kualitas tergantung varietasnya. Tetapi keunggulannya kita pakai pupuk organik,” terangnya.
“Jadi kalau padi kami berharap dari luar Tarakan kalau bisa dari Nunukan, Tanjung Selor. Sering saya sampaikan jual ke Tarakan kami siap menerima. Kita harus kerja sama dengan teman-teman yang lain,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa