Nelayan Keluhkan Harga Ikan Pepija Merosot

benuanta.co.id, TARAKAN – Nelayan ikan lembek mengeluh harga jual ikan yang turun drastis. Setidaknya terdapat 300 nelayan di perairan Kelurahan Juwata Laut, Kecamatan Tarakan Utara yang berfokus menjaring ikan pepija. Peran pemerintah sangat dibutuhkan nelayan dalam mengatasi mahalnya BBM dan turunnya harga jual ikan yang entitas Kota Tarakan.

Suryanto (51) nelayan ikan pepija, warga Jalan Tembung, RT 7 Kelurahan Juwata Laut, Kecamatan Tarakan Utara mengakui telah mengeluti profesi nelayan khusus ikan nomei atau akrab disebut pepija sejak tahun 1998 silam. Ia biasa menangkap ikan lembek di sejumlah perairan Kalimantan Utara seperti di Muara Ancam, Kabupaten Bulungan, Perairan Kabupaten Nunukan, bahkan di Perairan Juwata.

“Untuk ukuran ikan yang didapatkan bisa dikatakan kurang lebih dari sejumlah daerah tersebut, cuman untuk jumlah yang didapatkan, lebih banyak di dapatkan jika nelayan merantau di perairan Nunukan,” ucapnya.

Suryanto mengatakan, selain harga, kualitas ikan nomei yang berada di perairan Juata dengan perairan Pantai Amal. Selain itu, cara kerja dan daging ikan di masing-masing daerah memiliki sejumlah perbedaan.

“Tiap daerah memiliki cara kerja yang berbeda, jika di Juata ikan dijemur menggunakan rangka, namun, jika di Pantai Amal. Ikan tersebut di hampar di lantai dengan menggunakan terpal saja, jelas rasanya juga akan berbeda,” ungkapnya.

Baca Juga :  Nelayan di Tarakan Keluhkan Berkurangnya Kuota BBM

Suryanto mengeluh lantaran harga jual ikan pepija menurun drastis hingga Rp 70 ribu per Kilogram (Kg). Dulunya harga ikan tersebut sempat mencapai harga Rp 180 hingga Rp 200 ribu per kg. Harga tersebut disambut baik oleh sejumlah nelayan yang berada di Juata.

“Tidak mungkin nelayan akan turun melaut jika harga jual ikan menurun, bukannya untung, malah rugi yang didapatkan,” imbuhnya.

Pemerintah pernah melakukan sosialisasi dalam menentukan daerah tangkapan seperti di daerah serbaya motor tidak boleh di tangkap karena merupakan pengembangan bibit ikan lembek. Ia mengakui dengan adanya penyuluhan dari pemerintah akan daerah tangkapan, nelayan di untungkan karena guna menjaga kelestariannya.

Nelayan mendukung upaya pemerintah dalam menentukan daerah tangkapan ikan, Suryanto membeberkan nelayan korporatif kepada pemerintah, jika ada yang tidak menjalankan aturan biasa nelayan melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah.

“Pemerintah sering melakukan sejumlah pertemuan di kantor kelurahan dalam rangka menentukan daerah tangkap, hal tersebut disambut baik oleh nelayan, terkadang, sejumlah nelayan pun pernah diamankan oleh petugas lantaran menangkap ikan didaerah pengembangan bibit. Awal mungkin dikasih peringatan saja, jika tidak diindahkan akan dikenakan sangsi sesuai peraturan, jadi, ikan yang masih kecil akan berpindah ke daerah Juata jika sudah besar,” ujarnya.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Harga Beras Melambung

Suryanto mengaku menggunakan jaring pukat harimau lantaran jika menggunakan pukat yang disarankan pemerintah, nelayan tidak mendapatkan hasil yang banyak saat melaut. Namun ia mengatakan bahwa pukat yang digunakan saat ini khusus menjaring ikan nomei. Ia sempat beralih menangkap ikan jenis lain seperti bawal, namun, hal tersebut membutuhkan jaring khusus dan biaya.

“Keunggulan menggunakan pukat harimau lantaran mampu menjaring ikan sehingga tidak bisa keluar dari jaring, tapi yang gunakan hanya untuk ukuran kecil, tidak seperti yang digunakan kapal besar seperti milik nelayan Malaysia, jadi, pemerintah sempat memberikan pukat untuk mengantikan solusi alat tangkap yang saya gunakan, hasilnya tidak menutupi dengan BBM,” katanya.

Saat ini, dalam sekali melaut, Suryanto menghabiskan 60 liter solar seharga harga Rp 500 ribu, dari hasil tangkapan, ia hanya mendapatkan Rp 200 ribu. Dahulu, harga ikan lembek pernah turun drastis, namun hal tersebut tidak terlalu berpengaruh kepada nelayan lantaran harga BBM tidak naik. Dalam 3 hari, Suryanto menghabiskan 3 juta hanya untuk membeli BBM.

Baca Juga :  Kurir Sabu 10 Kg Dituntut Jaksa 18 Tahun Penjara

“Tidak sampai Rp 200 ribu yang saya dapatkan, hitungannya saya rugi, jadi 1 basket hanya 40 kg, untuk keadaan kering hanya 3 Kg, ya kali dengan harga saat ini Rp 70 ribu. Jadi, yang saya jual ke pengepul hanya keringnya saja,” imbuhnya.

Suryanto menilai, selama ini pemerintah tidak pernah hadir dalam mengatasi permasalahan di tengah nelayan berupa mahalnya harga bensin. Ia berharap pemerintah turut campur dalam pengaturan harga agar nelayan tidak di permainkan oleh pengepul. Saat ini, hampir terdapat 300 nelayan yang berfokus mencari ikan lembek.

“Jika di perairan Juata, hasil yang didapatkan sedikit karena ada banyak nelayan yang berburu ikan lembek ini. Namun jika saya merantau hasil yang didapat berlimpah, jika harga turun sama saja rugi,” tutupnya. (*)

Reporter: Okta Balang

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *