Sepanjang Tahun 2022, Dinkes Catat Ada 1.342 Kasus Pneumonia se-Kaltara

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, makanan hingga polusi.

Salah satunya yang menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara (Kaltara) yaitu penanganan kasus radang paru (pneumonia) hingga sampai saat ini sebagian besar di Indonesia penyebab kematian penyakit tersebut terbesar ada pada bayi dan balita.

Staf Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Dinas Kesehatan Provinsi Kaltara, Nur Hasanah mengatakan, data sepanjang tahun 2022 ada 1.342 kasus pneumonia ditemukan dalam kabupaten kota.

“Jumlah kasus Pneumonia Balita per kabupaten kota di Provinsi Kaltara tahun 2022 untuk se-kaltara mencapai 1.342 kasus, Kabupaten Tana Tidung (KTT) 77 kasus, Nunukan 141 kasus, Malinau 63 kasus, Tarakan 640 kasus, Bulungan 421 kasus,” ucapnya Jumat (24/3/2023).

Dijelaskannya pada tahun 2022 total kasus pneumonia balita berjumlah 1.342 orang dengan jumlah terbanyak ada di Kota Tarakan yakni 47,7 persen.

“Sepanjang tahun 2022 terdapat 3 kasus kematian karena pneumonia (balita), 2 orang dari Bulungan dan 1 orang dari Nunukan,” bebernya.

 

DATA: Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara terkait jumlah kasus Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut, atau ISPA secara khusus penanganan kasus radang paru (pneumonia) di Kaltara.

Lanjutnya kasus pneumonia balita berdasarkan jenis kelamin lebih banyak diderita oleh balita laki-laki yakni sebanyak 838 orang atau sekitar 62.44 persen dari 1.342 kasus pneumonia

“Kalau perempuan pada angka 37,56 persen,” sebutnya.

Kemudian dijelaskannya dari 5 kabupaten kota selama tahun 2022 cakupan penemuan kasus pneumonia balita tertinggi ada di Kabupaten Bulungan yaitu sebanyak 100 persen.

“Dan terendah di Nunukan yaitu hanya 25.36 persen. Jumlah total penderita pneumonia balita provinsi Kaltara tahun 2022 yaitu sebanyak 1.342 kasus dan kematian penderita akibat pneumonia sebanyak 3 kasus,” ujarnya.

Adapun penyebab masalah terjadi kasus tersebut dapat berupa faktor internal dan eksternal.

“Dari berbagai sektor mulai masyarakat maupun pemerintah. Beberapa analisa masalah cakupan penderita pneumonia balita yang tidak mencapai target salah satunya pneumonia. Selama ini memang belum merupakan program prioritas di daerah sehingga sering terkendala dana yang tidak memadai bahkan tidak ada sama sekali,” terangnya.

“Lalu terbatasnya sarana prasarana penunjang diagnostik di faskes, tidak ada alat penghitung RR yang standar, laptop komputer yang tersedia sangat minim dan pengelola program yang rangkap tugas dan sering terjadi mutasi petugas,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Yogi Wibawa

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2115 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *