Angkutan Udara Masih Menjadi Penyumbang Inflasi di Tanjung Selor 

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Transportasi angkutan udara masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Tanjung Selor.

Diketahui penyebabnya karena minimnya jumlah maskapai yang beroperasi di Bandara Tanjung Harapan, Tanjung Selor.

Hal tersebut diungkapkan Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, Slamet Romelan bahwa sepanjang Desember 2022 lalu berdasarkan data gabungan dua daerah Tarakan dan Tanjung Selor terjadi inflasi bulanan sebesar 0,50 persen.

“Tanjung Selor mengalami inflasi bulanan sebesar 0,19 persen. Lalu Tarakan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,59 persen,” ungkapnya Rabu (4/1/2023).

Sehingga menurutnya sepanjang bulan Desember 2022 lalu kenaikan harga tiket lebih besar di Tarakan dibandingkan Tanjung Selor.

“Menurut saya, ada beberapa faktor yang memengaruhi hal tersebut. Bisa karena kenaikan harga ini memang sudah diantisipasi atau Tanjung Selor sudah mengalami kenaikan yang lebih besar di bulan sebelumnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  BPJAMSOSTEK Tarakan-Kejaksaan Negeri Nunukan Bersinergi Optimalkan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Lebih lanjut, ia menilai di Tarakan ada lima komoditas utama penyumbang inflasi. Yakni, daging ayam ras sebesar 0,21 persen, sawi hijau sebesar 0,08 persen, emas perhiasan sebesar 0,08 persen, tomat sebesar 0,06 persen, dan cabai rawit sebesar 0,06 persen.

”Kenaikan harga lima komoditas ini tidak lepas dari momen Nataru kemarin ya yaitu Natal dan Tahun Baru. Karena permintaan meningkat,” ujarnya.

Lalu untuk lima komoditas utama penyumbang inflasi bulanan di Tanjung Selor kata Slamet yakni, daging ayam ras sebesar 0,10 persen, bawang merah sebesar 0,05 persen, telur ayam ras sebesar 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,04 persen dan emas perhiasan sebesar 0,03 persen.

Baca Juga :  Gerai di Pelabuhan Keramat akan Diperuntukkan bagi Pelaku UMKM

“Kalau komoditas penyumbang deflasi adalah cabai rawit sebesar -0,06 persen, cabai merah sebesar -0,04 persen, ikan bandeng/ikan bolu sebesar -0,03 persen, ikan tongkol/ikan ambu-ambu sebesar -0,02 persen dan tomat sebesar -0,02 persen,” bebernya.

Kemudian untuk angkutan udara, Slamet mengatakan tidak dapat dilihat dari inflasi bulanan.

“Ya Karena, harga tiket pesawat sudah mulai meningkat sejak Juli 2022, setelah Avtur mengalami kenaikan Sampai sekarang ini Avtur masih naik. Jadi, tidak bisa tergabarkan inflasi bulanan untuk angkutan udara. Kenaikan inflasi pada angkutan udara dapat terlihat dari inflasi year on year (yoy),” jelasnya.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Segera Umumkan Stop Ekspor Mentah Tembaga Tahun Ini

Sementara di kota Tarakan, kata Slamet, angkutan udara menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar kedua setelah BBM sebesar 0,47 persen.

“Untuk di Tanjung Selor angkutan udara ini menjadi penyumbang terbesar per tahun,” ungkapnya.

Lalu beberapa tahun sebelumnya, harga tiket Tanjung Selor-Balikpapan masih ada Rp 900 ribu hingga Rp 1.200.000. Saat ini sudah naik menjadi Rp 1.800.000.

“Kita berharap di Tanjung Selor ini tidak hanya satu maskepai yang beroperasi, sehingga tidak memengaruhi harga tiket,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *