Penerapan Business Model Canvas (BMC) Pada UMKM

Abdurrahman (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Akuntansi)

Dra. Arfida Boedirochminarni, M.S. (Dosen)

 

BAGI kalian yang ingin membuka usaha UMKM namun mengalami kesulitan membuat pemetaan konsep dan tujuan bisnis. Rasanya terlalu banyak elemen dan segmen yang harus dituliskan dalam satu dokumen. Tidak tahu harus bagaimana mempresentasikan segala hal dalam bisnis itu dalam satu tampilan. Tenang disini akan dicari solusi atas kesulitan itu semua dengan menggunakan metode Bussiness Model Canvas (BMC).

Apa itu BMC?

Business Model Canvas (BMC) adalah sebuah kerangka kerja yang membahas model usaha dalam bentuk visual berupa kanvas lukisan, supaya dapat dimengerti dan dipahami dengan mudah. Ini merupakan alat dalam strategi manajemen usaha untuk menjelaskan konsep, konsumen, infrastruktur, target pelanggan, maupun keuangan perusahaan secara lebih jelas. Biasanya, strategi ini digunakan oleh pelaku usaha pemula agar bisa menghasilkan strategi usaha yang matang. Sebelumnya, pelaku UMKM masih belum terlalu banyak menggunakan strategi ini, tapi dengan akses informasi yang lebih baik serta persaingan di pasar yang semakin ketat, tidak mengherankan kalau UMKM juga perlu menggunakan strategi ini.

Apa fungsi dari BMC itu sendiri?

Selain untuk memudahkan wirausaha untuk menuangkan ide bisnisnya dalam satu bagan yang sederhana, BMC masih memiliki fungsi lainnya yakni sebagai berikut :

  1. Terjemahan konsep, ide, gagasan suatu bisnis dalam elemen-elemen visual
  2. Rencana bisnis terfokus, karena detail setiap elemen BMC memudahkan wirausaha untuk memahami tujuan bisnis.
  3. Alat diskusi yang simple dengan mitra bisnis lainnya.
  4. Panduan untuk mengeksekusi bisnis
  5. Untuk menggambarkan dengan cepat tentang apa yang dibutuhkan oleh suatu ide.
  6. Memungkinkan Anda untuk memahami proses yang diperlukan untuk membuat keterhubungan antara ide Anda hingga membuatnya menjadi suatu bisnis.
  7. Memperlihatkan seperti apa pengaruh keputusan pelanggan terhadap sistem bisnis.
  8. Memungkinkan setiap orang untuk mendapatkan ide yang jelas tentang gambaran bisnis.

Fungsi- fungsi diatas juga menjadi jawaban atas alasan mengapa kita harus menggunakan metode BMC.

Mungkin yang menjadi pertanyaan umum terkait BMC ini adalah apa yang membedakan antara BMC ini dengan Business Plan? Baik disini penulis akan menjelaskan apa perbedaannya. Pada dasarnya, semua wirausaha di bidang apa pun bisa membuat Bisnis Model Canvas, mengingat fungsinya sebagai gambaran bisnis saat mendirikan usaha. Kamu yang ingin membuat bisnis kuliner, warung kopi, salon, bengkel, bisa banget menggunakan Bisnis Model Canvas. Namun saat ini penggunaan Bisnis Model Canvas sering dikaitkan dengan pendirian perusahaan rintisan atau startup. Dikarenakan lebih sederahana, lebih ringkas karena hanya fokus ke 9 konsep atau elemen, modal yang digunakan juga lebih sedikit. Berbeda dengan Business Plan yang lebih dominan digunakan untuk perusahaan yang sudah besar, dimana menjelaskan lebih rinci, menjelaskan visi, misi tujuan dalam satu makalah, dan modal yang dibutuhkan juga terbilang besar, cakupan pembahasannya juga luas dan banyak. Sederhananya BMC itu lebih simple dan tidak membutuhkan pembahasan yang banyak dan lebih cocok digunakan untuk usaha UMKM maupun start up yang dimana usaha semacam itu tidak membutuhkan modal yang besar dan penjelasan yang cukup besar untuk membangunnya, dan business plan itu mempunyai cakupan pembahasan yang luas dan banyak yang dimana cocok digunakan untuk perusahaan-perusahaan besar.

Baca Juga :  Era Digitalisasi Bagi Generasi Milenial : Penggunaan Media Komunikasi Bagi Generasi Milenial

9 Elemen Pada BMC dan cara menggunakannya.

  1. Value Proposition (Nilai yang dimiliki bisnis)

Value yang dimaksudkan di bagian ini bisa berarti keunggulan, keunikan, atau kelebihan yang ada pada bisnismu. Apa sih yang menjadi nilai lebih daripada usahamu itu yang tidak dimiliki oleh usaha lainnya? Nah itulah maksud dari Value Proposition ini. Untuk mengisi bagian Value Proposition, kamu perlu menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. “Masalah apa yang bisa diselesaikan dengan produk atau layanan bisnismu?”
  2. “Apakah permasalahan tersebut cukup vital bagi konsumen?”
  3. “Keunikan apa yang ingin ditawarkan produk atau layanan bisnismu?”
  4. “Dibandingkan dengan pesaing, apa keunggulan produk yang dimiliki bisnismu?”

Cara yang baik untuk melakukan pendekatan ini bagi pengguna/ pelanggan adalah dengan melihat segmen pelanggan Anda dan mencari tahu di mana produk/ layanan Anda memecahkan masalah bagi pelanggan. Jika Anda menjual produk atau layanan ke bisnis lain, Anda adalah mitra kunci bagi mereka untuk mencapai Value Proposition untuk konsumennya. Penting untuk memiliki konteks seputar tujuan yang ingin dicapai perusahaan untuk Customer Segments mereka dan di mana bisnis/ produk / layanan Anda sesuai dalam value chain.

 

  1. Customer Segment (Segmen konsumen)

Ketika kamu mulai menjalankan bisnis, maka hal yang penting adalah menentukan bisnis tersebut akan menyasar pelanggan dengan segmen apa. Dalam kata lain, segmen pelanggan ini merupakan jenis orang-orang yang menjadi target pasar. Customer Segments adalah praktik membagi basis pelanggan menjadi kelompok individu yang serupa dengan cara tertentu, seperti usia, jenis kelamin, minat, dan kebiasaan berbelanja. Adapun hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan segmen konsumen ini pada bisnis kalian adalah sebagai berikut :

  1. Untuk siapa kita memecahkan masalah?
  2. Siapa orang yang akan menghargai Value Proposition saya?
  3. Apakah mereka bisnis lain?
  4. Jika ya, apa karakteristik dari bisnis tersebut?
  5. Atau, apakah mereka orang lain?
  6. Apakah Value Proposition saya menarik bagi pria/ wanita atau bahkan keduanya?
  7. Apakah Value Proposition saya menarik bagi orang berusia 20 hingga 30 tahun atau remaja?
  8. Apa karakteristik dari orang yang mencari Value Proposition saya?

Hal lain yang perlu untuk diukur dan dipahami adalah ukuran market bisnis Anda, dan berapa banyak orang di Customer Segment. Hal ini akan membantu Anda memahami pasar dari perspektif mikro dan makro. Tempat yang tepat untuk mulai memahami pelanggan Anda adalah dengan membuat persona pelanggan untuk setiap Customer Segments Anda.

 

  1. Customer Relationship (Hubungan dengan konsumen)

Apa sih yang membuat pelanggan kembali membeli produk kita secara berulang? Produk yang berkualitas? Tentu, tapi elemen yang turut berperan adalah hubungan yang dijalin dengan pelanggan. Ya, usaha besar maupun UMKM perlu memikirkan hal ini dengan matang. Bagaimana pun juga, usaha kita ada untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Elemen ini penting untuk tetap menjadi loyalitas konsumen terhadap bisnismu. Beberapa pertanyaan yang bisa kamu jawab untuk mengisi bagian Customer Relationships :

  1. “Bagaimana cara konsumen mempertahankan loyalitas dengan bisnismu?”
  2. “Bagaimana bisnismu memastikan kepuasan konsumen setelah menggunakan produk atau layanan?”
  3. “Kegiatan apa saja yang akan dibuat untuk menjaga hubungan baik dengan konsumen?”
Baca Juga :  Era Digitalisasi Bagi Generasi Milenial : Penggunaan Media Komunikasi Bagi Generasi Milenial

Kamu bisa memahami jenis hubungan seperti apa yang dimiliki pelanggan dengan perusahaan kamu melalui peta perjalanan pelanggan atau customer journey map. Peta konsep ini akan lebih mudah untuk membantumu dalam mengidentifikasi jenis hubungan apa antara perusahaan dengan pelanggan. Hal ini juga akan membantu dalam mendapatkan, mempertahankan dan mengembangkan pelanggan.

 

  1. Channels (Saluran distribusi)

Channels didefinisikan sebagai jalan yang digunakan pelanggan untuk berhubungan dengan bisnis Anda dan menjadi bagian dari siklus penjualan. Channels umumnya tercakup dalam rencana pemasaran untuk bisnis Anda. Bagian Channel akan memberi penjelasan bagaimana produk atau layanan bisnismu bisa sampai ke tangan konsumen. Hal-hal yang akan dibahas di bagian ini meliputi pemasaran, penjualan, hingga distribusi dan bagaimana proses setelah produksi berjalan. Terdapat beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab untuk mengisi bagian ini:

  1. “Bagaimana produk atau layanan bisnismu sampai ke tangan konsumen?”
  2. “Bagaimana menyampaikan produk atau layanan ke konsumen?”
  3. “Apa saja yang akan dilakukan untuk mempromosikan bisnismu?”
  4. “Media apa saja yang akan dipakai untuk mengiklankan bisnismu?”

 

  1. Key Activities (Kegiatan utama bisnis)

Elemen Business Model Canvas ini mengacu kepada semua aktivitas yang berhubungan dengan produktivitas usaha yang berkaitan dengan sebuah produk, supaya produk dengan nilai manfaat (value proposition) yang ditetapkan dapat tercipta dan hadir di pasar. Aktivitas utama usaha ini maksudnya adalah kegiatan wajib dalam usaha, seperti perancangan produk, proses produksi dan pengolahan, operasional usaha, pengiriman barang, dll. Untuk memahaminya, kamu bisa menjawab berbagai pertanyaan di bawah ini:

  1. “Apa saja aktivitas yang dilakukan untuk menciptakan value propositions?”
  2. “Bagaimana strategi pemasaran yang akan dilakukan untuk mencapai target?”
  3. “Apa yang akan dilakukan ketika bisnismu mengalami masa sulit?”

Aktivitas ini juga harus fokus untuk menentukan proposisi nilai, menjaga hubungan dengan pelanggan, menjangkau segmen pelanggan dan bisa menghasilkan pendapatan.

 

  1. Key Resources (Sumber daya vital)

Key resources ini merupakan sumber daya utama yang digunakan untuk membantu agar model bisnis kamu bisa berjalan dengan baik. Model bisnis ini juga menjadi salah satu kunci agar bisa mewujudkan value proposition melalui kegiatan yang akan dijalankan. Sumber daya ini bisa dalam bentuk seperti karyawan, keuangan, intelektual (merek, IP, hak cipta) hingga fisik (gedung, inventaris, peralatan). Di bawah ini akan diberikan pertanyaan-pertanyaan dalam mengisi bagian Key Resources:

  1. “Apa sumber daya paling vital yang harus dimiliki bisnismu agar bisa berjalan dengan lancar?”
  2. “Apa saja aset yang dimiliki bisnismu yang tidak bisa diganti dengan yang lain?”

 

  1. Key Partners (Mitra bisnis)

Sebuah perusahaan tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa bantuan atau business partner dari pihak luar atau pihak lain. Dalam hal ini bisa pemasok bahan utama atau juga pelanggan. Gambaran dari Key Partners yakni ‘jika bisnis saya tidak dapat mencapai value proposition sendirian, siapa lagi yang perlu saya andalkan untuk melakukannya?’.

Baca Juga :  Era Digitalisasi Bagi Generasi Milenial : Penggunaan Media Komunikasi Bagi Generasi Milenial

Contohnya adalah ‘jika saya menjual bahan makanan kepada pelanggan, saya mungkin memerlukan pembuat roti lokal untuk menyediakan roti segar ke toko saya’.

Mereka adalah mitra kunci untuk mencapai value yang dijanjikan bisnis saya kepada pelanggan.

Kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah  ini untuk mengisi bagian Key Partners:

  1. “Siapa saja yang memproduksi produk sampingan yang dijual?”
  2. “Mengapa memilih pemasok tersebut daripada yang lain?”
  3. “Bagaimana peran agensi pemasaran dalam bisnismu?”
  4. “Apakah konsultan bisnis yang disewa telah menyelesaikan permasalahan?”

Adanya key partners ini juga digunakan untuk membantu mendapatkan sumber daya dan mengurangi resiko bisnis perusahaan. Jenis relasi tersebut ada beberapa yang bisa sesuai dengan bisnis yang sedang kamu jalankan. Seperti buyer-supplier relationship, joint ventures, coopetition dan strategic alliance.

 

  1. Cost Structures (Struktur pembiayaan bisnis)

Ada pendapatan, ada juga biaya yang harus dikeluarkan. Struktur biaya ini merupakan rincian dari faktor-faktor yang berperan membentuk biaya untuk menunjang aktivitas usaha. Biasanya, elemen Business Model Canvas ini meliputi hal-hal seperti biaya bahan baku, biaya pemasaran, biaya produksi, biaya kemasan dan distribusi, serta gaji pegawai. Ketika keuangan dan pembiayaan usaha dikelola dengan strategi yang baik, usaha bisa berjalan dengan lebih hemat, efisien, bahkan minim risiko kerugian. Kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk memandumu mengisi bagian Cost Structure:

  1. “Apa saja pengeluaran yang dibutuhkan untuk membiayai kegiatan promosi?”
  2. “Berapakah biaya sewa tempat selama sebulan?”
  3. “Berapakah keuntungan yang bisa didapatkan bisnismu selama satu tahun?”

Cost structure ini nantinya akan meliputi biaya yang harus kamu keluarkan ketika bisnis berjalan. Misalnya biaya untuk sewa tempat, listrik, internet dan lainnya.

  1. Revenue Streams (Sumber pendapatan)

Revenue Streams didefinisikan sebagai cara bisnis Anda mengubah Value Proposition atau solusi untuk masalah pelanggan menjadi keuntungan finansial. Karena itu, elemen ini harus dikelola semaksimal mungkin, utamanya dengan memanfaatkan setiap sumber daya secara maksimal supaya bisa meningkatkan pendapatan usaha. Intinya, elemen ini merupakan strategi pelaku usaha untuk menghasilkan uang tergantung dengan setiap kegiatan dan hal yang ditawarkan melalui usaha, misalnya penjualan produk, penjualan jasa, biaya berlangganan, atau bahkan biaya peminjaman. Untuk memudahkan mengisi bagian Revenue Stream, kamu bisa menjawab pertanyaan -pertanyaan di bawah ini:

  1. “Bagaimana pricing models yang akan dipakai bisnismu?”
  2. “Di harga berapakah konsumen akan sanggup membayar produk atau layanan bisnismu?”
  3. “Berapa harga yang ditawarkan oleh pesaingmu pada produk yang sama?”

Nah, itu lah tadi 9 elemen utama yang ada pada Business Model Canvas (BMC). Sekarang kalian sudah paham terkait strategi serta elemen-elemen kunci dalam usaha, kurang rasanya jika hanya mempelajari namun tidak di realisasikan di kehidupan nyata. Tunggu apalagi kalian sekarang bisa mulai membangun usaha kecil-kecilan saja terlebih dahulu dengan mempertimbangkan 9 elemen tadi. Bisa dipastikan bisnis anda akan lebih terarah untuk kedepannya dan lebih sukses lagi.

SEMANGAT BERWIRAUSAHA!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × four =