oleh

Rapid Test Dinilai Mahal, Walikota : Kalau Tidak Ada Uang Lebih Baik di Rumah Saja

TARAKAN – Sehubungan adanya Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 05/2020 yang memperpanjang masa berlaku Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 hingga 7 Juni 2020, dan mewajibkan agar penumpang melakukan protokol kesehatan sebelum berangkat, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Terutama calon penumpang yang menilai biaya rapid test terlampau tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Tarakan, dr. H. Kharul, M.Kes menyampaikan bahwa tarif yang dirasa mahal ini tak didapatkan rumah sakit secara gratis dari pemerintah. Melainkan dibeli lagi oleh masing-masing rumah sakit, lalu untuk kebutuhan keberangkatan masyarakat tarifnya pun sudah disesuaikan Pemkot, yakni Rp 1 juta per orangnya.

“Itu kan dibeli lagi semua. Tapi masa kita biayai pakai APBD, ya habis APBD kita membiayai orang yang enak-enak aja dia berangkat. Ya kalau tidak ada uang ya tidak usah berangkat. Sudah di rumah aja tidur, gitu kan lebih aman. Aman tidak kena virus dan tidak membawa virus, kan begitu,” ujar dr. H. Khairul, M.Kes kepada benuanta.co.id.

Menurutnya, persoalan biaya rapid test tersebut sudah menjadi risiko calon penumpang dan sebuah harga yang akan dibayar ketika berpergian. “Itu adalah harga dari bersenang-senang, jadi memang harus ada harga untuk sebuah perjalanan. Padahal ini persyaratan selama masa pandemi,” terangnya.

Hingga kini Pemkot juga masih menunggu kepastian akan kembali normal atau tidaknya dua moda transportasi itu, dari kebijakan pemerintah pusat. “Itu kan kebijakan dari Satgas nasional. Kita rapat juga bertanya tanggal 7 Juni ini apa lagi, kita tanya KKP sampai sekarang juga belum terima kabar juga. Apakah setelah tanggal 7 ada pembukaan, ya itu tergantung kebijakan pemerintah pusat,” imbuhnya

“Transportasi laut dan udara kan bukan kewenangan Pemkot, sehingga kami mendukung mem-backup semua yang diberikan pemerintah pusat,” tandasnya.(*)

 

Reporter : Yogi Wibawa

Editor : M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

  1. Komentar dr Bapak sepertinya kurang tepat.
    tidak smua masyarakat yang berangkat keluar itu tujuannya enak loh Pak.. ad yang keluar cari rejeki…sekolah dan lain lain.

    Dirumh saja? are you kidding me?.
    bantuan sjaa tidak ada. mu dirumah aja.. be wise dong Pak. open your eyes open your heart.
    Tarakan gk smua msyarktx mampu.

    Contohi malaysia, stayhome bisa berhasil karena bantuan dr kerajaan Malaysia merata.

    BTW.. happy birthday pak. Tolong buat Tarakan lebih baik. Jalan aspal terutama. di area Juata banyak kolam kolam ikan..

    1. Penilaian yang keliru,tidak semua orang berpergian dengan bertujuan bersenang2,suruh berdiam dirumah mau makan apa..bantuan apa yang mencukupi untuk bertahan di rumah,kalau yang mampu tak masalah,yang tak mampu,untuk makan besok dicari hari ini yang bermasalah.

  2. Pak kalau bicara dilihat dl nah kayak kami begini mau kerja keluar daerah tarakan ,ditarakan kami tidak ada penghasilan emang kost bapak bayar.bantuan gak merata pak.

  3. Pejabat macam apa ini. Mentang-mentang punya jabatan ya jadi seenaknya. Kami anak rantau sudah lama tidak kerja mau pulang pun di cegah. Kok anda seenaknya saja bisa berbicara seperti ini. Semoga Anda terhindar dari penyakit aammiinn.

  4. Mungkin kamu menggunakan transportasi umum hanya untuk bersenang-senang, anda harusnya jadi panutan bukan jadi pengecut..
    ASN dan anda buka ASN biasa anda adalah salah satu figur yg harus dan harus jadi panutan.

News Feed