benuanta.co.id, TARAKAN – Isu harga komoditi kedelai melonjak ternyata benar adanya. Dampak kenaikan harga kedelai ini turut dirasakan pangan olahan berbahan dasar kedelai seperti tahu dan tempe.
Harga kedelai pada 20 Februari 2022 mencapai Rp 535 ribu per karung dengan berat 50 kg. Harga ini diperkirakan telah naik dari harga sebelumnya yakni Rp 350 ribu. Sedangkan pada 21 Februari 2022 harga kedelai kian melambung yakni Rp 590 ribu.
Seorang pemilik industri pembuatan tahu di Kota Tarakan, Sugeng membenarkan hal tersebut sehingga pihaknya mengaku harus menambah modal untuk membeli bahan utama yaitu kedelai.
“Ya jelas kenaikan ini berdampak, kira-kira sudah lama itu naiknya sekitar Rp 200 ribu per karung,” tuturnya, Rabu (23/2/2022).
Dikatakan Sugeng, kedelai per karung memiliki berat 50 kilogram. Per harinya, ia dapat menggunakan 3-4 karung untuk membuat tahu.
“Kalau kita ya, tahu masih tetap aja tidak dinaikan (harganya), ya memang kita kurangi sedikit. Kalau di Surabaya kan ramai itu,” katanya.
Selama 41 tahun perjalanannya dalam memproduksi tahu, ia mengaku bahwa ini termasuk ke dalam kenaikan harga yang cukup tinggi.
“Dari harga awal itu Rp 350 ribu (per karung kedelai, red), sekarang harganya Rp 575 ribu. Iya yang jelas kita tetap bisa jalan tapi kalau kerugian ya jelas rugi, satu-satunya jalan memang ke depan begitu harga tetap tapi tahu dikecilkan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pembeli, Nurul menuturkan ia membeli tahu di pasaran dengan harga yang sama namun ukuran tahu berbeda dari biasanya.
“Harganya tidak naik memang, cuma tahunya dikecilkan, tempe juga begitu,” katanya.
Nurul mengakui mengetahui pasti ukuran tahu dan tempe sebelumnya, karena ia kerap kali membeli tahu dan tempe sebagai bahan dasar jualannya.
“Sekarang tidak menambah belinya,cuma ya memang tidak ada untungnya kalau kita jualan, apalagi kita goreng juga,” jelasnya.
Sementara itu, dikonfirmasi secara terpisah, Pelaksanaan Harian (Plh) Dinas Pangan dan Pertanian Kota Tarakan, Sugeng, S.Tp menjelaskan bahwa kenaikan yang signifikan ini terjadi pada harga distributor pusat.
“Mungkin produksinya kurang, karena kita ambil dari Surabaya ya mungkin juga gagal panen kan cuaca ekstrem ini kalau saya lihat secara teknis hasil panennya ini lahannya harus kering air juga harus ada,” tukas Sugeng.
Sugeng menerangkan bahwa pihaknya juga selama ini melakukan pemantauan ke pasaran dan distributor setiap satu minggu sekali.
Terkait stok pangan komoditas kedelai, Sugeng memastikan bahwa stok dalam keadaan aman.
“Stoknya aman karena selama ini dari pelaku usaha tidak ada laporan ke dinas jadi masih aman cuma masalah harga jangan sampailah naik banyak,” terangnya.
“Informasi dari teman-teman mereka (pelaku usaha) tidak mengeluh rugi, mungkin hasil produksinya dikurangi, artinya keluhan tidak terlalu, tidak kayak di Jawa berhenti jualan, gulung tikar. Di sini, pelaku usaha masih bertahan, infonya besar kecilnya tetap aja, harga tidak dinaikkan,” sambungnya.
Terakhir, Sugeng berharap bahwa pemerintah pusat dapat mengambil kebijakan menangani kedelai agar bisa kembali seperti harga semula.
“Supaya pelaku usaha tetap bisa bertahan bisa ambil untung dan masyarakat bisa menikmati hasil olahan kedelai,” pungkasnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







