benuanta.co.id, BULUNGAN – Perusahaan kelapa sawit di Kabupaten Bulungan terbilang banyak. Pemerintah Kabupaten Bulungan pun meminta agar keberadaan perkebunan sawit ini dapat mendirikan perusahaan yang Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak goreng.
Bupati Bulungan Syarwani dalam rapat audiensi masalah kebun plasma sawit dengan beberapa perusahaan diantaranya PT Abdi Borneo Plantations dan PT Tunas Borneo Plantations meminta agar perusahaan kelapa sawit ini berkontribusi terhadap daerah.
“Minyak goreng saat ini harganya sangat mahal. Saya meminta agar perusahaan kelapa sawit ini mendirikan pengelolaan minyak goreng, katakanlah minyak goreng curah,” ungkap Syarwani kepada benuanta.co.id, kemarin.
Dia melihat beberapa waktu lalu, pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan telah mendatangkan minyak goreng curah ke Bulungan. Dimana minyak tersebut didatangkan dari luar Kaltara.
Dirinya berharap, suatu saat nanti Bulungan atau lingkup Kaltara memiliki pabrik minyak goreng sendiri. Terlebih di Bulungan terdapat 7 perusahaan kelapa sawit yang memiliki luas lahan hingga ratusan hektare.
“Saya juga berharap pihak perusahaan sawit yang ada di Bulungan dapat berkolaborasi misalnya untuk membangun pabrik penghasil minyak goreng setidaknya minyak goreng curah sehingga tidak perlu mendatangkan dari luar daerah,” paparnya.
Selama ini, perusahaan di Bulungan hanya mampu membuat minyak mentah kelapa sawit atau lazimnya disebut Crude Palm Oil (CPO), kemudian CPO ini dikirim keluar Kaltara untuk diolah menjadi minyak goreng.
“Jadi, wajar jika ada pabrik penghasil minyak goreng di Kalimantan, tidak sebatas penghasil CPO saja. Tapi kita ada pabriknya, supaya kita tidak kesulitan mendapatkan minyak goreng,” jelasnya.
Syarwani juga meminta, agar perusahaan sawit di Bulungan untuk memperhatikan masalah kebun plasma sawit. Dia berharap tidak ada permasalahan lagi soal itu, antara koperasi masyarakat dengan perusahaan.
“Saya juga meminta pihak perusahaan turut memperhatikan anak-anak yang berada di sekitar wilayah perkebunannya jangan sampai ada yang tidak bersekolah atau putus sekolah,” pungkasnya. (*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: Ramli







