Pedagang Kopi Pinggir Jalan: Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Plastik dan Kelangkaan Susu 

benuanta.co.id, NUNUKAN– Tekanan ekonomi yang terus meningkat membuat pelaku UMKM, khususnya penjual kopi pinggir jalan, menghadapi situasi yang semakin sulit.

Kenaikan harga bahan baku, lonjakan biaya kemasan, hingga kelangkaan susu UHT menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi setiap hari.

Salah satu yang merasakan dampak tersebut adalah Novita, pemilik Soon Coffe yang berjualan di kawasan Alun-alun Nunukan.

Usaha kecil yang ia rintis kini harus berhadapan dengan berbagai kenaikan biaya operasional yang tak terhindarkan.

Novita mengungkapkan, harga biji kopi mengalami kenaikan, begitu juga dengan harga cup atau gelas kemasan yang menjadi kebutuhan utama dalam penjualan kopi kekinian.

Tidak hanya itu, susu UHT yang menjadi bahan penting dalam menu kopi susu juga semakin sulit didapat.

“Sekarang biji kopi naik, harga cup (gelas) juga naik. Belum lagi UHT malah sering langka, kalaupun ada harganya sudah jauh lebih mahal,” ujar Novita saat ditemui di lapaknya.

Kondisi ini membuat Novita berada dalam dilema. Di satu sisi, ia harus menjaga kualitas rasa agar pelanggan tetap setia. Namun di sisi lain, kenaikan harga bahan membuat margin keuntungan semakin menipis.

“Kalau harga dinaikkan, takut pelanggan berkurang. Tapi kalau tidak dinaikkan, kita yang tidak dapat untung,” tambahnya.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Novita mencoba mencari alternatif pemasok dengan harga lebih terjangkau. Namun, keterbatasan modal membuatnya tidak bisa membeli bahan dalam jumlah besar untuk mendapatkan harga grosir.

Selain itu, daya beli masyarakat yang cenderung melemah juga turut memengaruhi penjualan. Pelanggan kini lebih selektif dalam membeli minuman di luar, termasuk kopi.

Meski demikian, Novita tetap berusaha bertahan. Baginya, usaha Soon Coffe bukan hanya sekadar bisnis, tetapi juga sumber penghidupan yang harus terus diperjuangkan di tengah situasi yang tidak menentu.

Ia berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah, terutama dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok dan memastikan ketersediaan bahan seperti susu UHT di pasaran.

Senada dengan itu, Dwi Mutia salah satu penjual kopi di Jalan Lingkar Nunukan, juga mengaku dilema dengan adanya kenaikan harga sejumlah bahan baku dan kemasan.

“Harga pasaran kita standar Rp 15 ribu, sekarang semua bahan ikut naik. Kita masih dilema mau naikkan harga. Kalau cafe-cafe sebenarnya sudah naik harganya, kita yang penjual kopi di pinggir jalan ini belum,” singkat Dwi.

Di tengah berbagai keterbatasan, semangat para penjual kopi pinggir jalan tetap menyala menyeduh harapan di setiap gelas yang mereka sajikan. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *