BPS Catat 5 Ribu Industri Mikro dan Kecil di Kaltara, Didominasi Makanan 67,81 Persen

benuanta.co.id, BULUNGAN – Dalam pembangunan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), peran usaha Industri Mikro dan Kecil (IMK) sangat strategis.

Usaha sektor IMK diyakini memiliki ketahanan yang baik terhadap berbagai tantangan ekonomi.

Di Kaltara, sektor IMK memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, sekaligus menjadi salah satu solusi dalam penyediaan lapangan kerja.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, Mustaqim mengatakan, jumlah usaha IMK di Kaltara pada tahun 2024 tercatat sebanyak 5.953 usaha. Usaha IMK tersebar di kabupaten/kota yang terdiri dari 5.784 usaha Industri Mikro dan 170 Usaha Industri Kecil.

Berdasarkan kelompok industri, usaha IMK di Kaltara didominasi oleh industri makanan berjumlah 4.037 usaha atau 67,81 persen, diikuti industri minuman sejumlah 523 usaha atau 8,79 persen, dan industri pakaian jadi sejumlah 316 usaha atau 5,31 persen dari total usaha IMK di Kaltara.

Baca Juga :  Hyper 5G Telkomsel Dukung Kelancaran Perayaan Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang dan Pontianak

“Tiga kelompok industri dengan jumlah usaha IMK paling sedikit adalah usaha industri komputer, barang elektronika dan optik 0,07 persen, usaha industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 0,15 persen dan usaha industri percetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 0,55 persen,” sebutnya, Ahad (1/3/2026).

Bahkan kata Mustaqim, usaha IMK di Kaltara pada tahun 2024 mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 11.751 orang. Pekerja usaha IMK Kaltara dominan berada di industri makanan, yaitu sejumlah 7.610 pekerja atau mencapai 64,76 persen dari total pekerja usaha IMK Provinsi Kalimantan Utara.

Selanjutnya diikuti dengan pekerja di industri minuman berjumlah 966 pekerja, dan pekerja industri barang galian bukan logam berjumlah 754 pekerja. Komposisi tenaga kerja usaha IMK untuk jenis kelamin menunjukkan tenaga kerja perempuan lebih dominan, yaitu sebesar 59,56 persen dari jumlah seluruh tenaga kerja.

Baca Juga :  Telkomsel Area Pamasuka Siaga Melayani Sepenuh Hati Selama Ramadan dan Idulfitri 2026

“Jika dilihat dari perbandingan tenaga kerja laki-laki dan perempuan di masing-masing kelompok industri, tenaga kerja perempuan lebih banyak didominasi di industri makanan, industri farmasi, obat dan obat Tradisional, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri pakaian jadi, dan industri tekstil,” jelas Mustaqim.

Adapun dari komposisi usia tenaga kerja, 93,58 persen tenaga kerja masuk dalam kelompok usia produktif (15-64 tahun). Hanya sekitar 6,43 persen merupakan usia nonproduktif, yaitu pekerja anak (kurang dari 15 tahun) dan pekerja lanjut usia (65 tahun atau lebih).

Keterlibatan kelompok nonproduktif ini sebagian besar berstatus sebagai pekerja tidak dibayar. Mereka umumnya adalah anggota keluarga yang turut membantu operasional usaha guna menjaga keberlangsungan produksi rumah tangga.

Baca Juga :  Dukung Program SEMANTIK Komdigi, Telkomsel Terapkan Registrasi Biometrik Wajah untuk Nomor Seluler Baru

Industri makanan tercatat sebagai lapangan usaha yang paling banyak menyerap pekerja anak dan lansia. Angka serapannya mencapai 64,15 persen dari total pekerja nonproduktif. Fenomena ini terjadi karena proses

Pengolahan makanan dinilai tidak membutuhkan keterampilan teknis yang kompleks atau spesialisasi khusus. Alhasil, pekerjaan di sektor ini relatif mudah dilakukan oleh anak-anak maupun lansia dalam skala industri rumahan.

Selain industri makanan, terdapat dua sektor lain yang juga menunjukkan partisipasi cukup signifikan dari kelompok usia non-produktif, yaitu industri minuman berkontribusi sebesar 11,24 persen dan industri kayu, barang dari kayu, gabus, dan anyaman menyumbang sebesar 8,99 persen. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *