benuanta.co.id, TARAKAN – Rencana reaktivasi Bandara Juwata Tarakan sebagai bandar udara internasional disambut baik oleh pelaku usaha di sektor pariwisata. Namun, langkah ini dinilai bukan sekadar prestasi simbolis, melainkan pekerjaan besar yang membutuhkan strategi matang agar penerbangan internasional benar-benar berjalan berkelanjutan.
Wakil Ketua Bidang Pariwisata Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Tarakan, Ivan Kansil, menegaskan pihaknya mendukung penuh kebijakan tersebut. Meski demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berpuas diri pada status internasional semata.
“Kita tidak boleh serta-merta senang hanya karena status bandara kembali internasional, yang lebih penting adalah pesawat mana yang akan diajak bergabung,” jelasnya, Senin (15/9/2025) pada FGD lalu.
Ivan mencontohkan pengalaman serupa di Bandara Manado, di mana penerbangan internasional ke Kinabalu hanya bertahan tiga bulan karena rendahnya tingkat keterisian. Ia menyebut kondisi itu menjadi pelajaran penting agar Tarakan tidak mengalami hal yang sama.
“Kenapa bisa tutup? Karena okupansinya sangat rendah, orang Manado jarang datang ke Kinabalu, justru sebaliknya,” ungkapnya.
Menurut Ivan, salah satu tantangan utama adalah bagaimana pemerintah daerah bersama pengelola bandara mampu meyakinkan maskapai untuk membuka rute. Ia menilai AirAsia menjadi kandidat paling memungkinkan. “Kemungkinan besar AirAsia yang akan masuk, itu sangat memungkinkan, tapi harus ada lobi dan duduk bersama dengan pelaku usaha,” katanya.
Di sisi lain, faktor harga tiket juga menjadi perhatian serius. Ivan mengingatkan agar tiket internasional tidak dipatok terlalu mahal, karena 70 persen komponennya berasal dari pajak. Ia mendorong pemerintah untuk memberikan insentif agar harga bisa lebih terjangkau. “Komponen tiket kita hampir 70 persen adalah tax, jadi perlu kontribusi dari pemerintah supaya harga tidak terlalu tinggi,” bebernya.
Ivan juga mengusulkan agar pemerintah daerah dan pihak bandara melakukan pendekatan aktif ke Tawau dan Kinabalu. Menurutnya, sosialisasi rute akan memperluas eksposur pariwisata Tarakan. “Kalau mereka tahu ada rute ini, semua kepentingan kita akan terekspos, baik perjalanan bisnis maupun wisata,” tegasnya.
Ia menambahkan, potensi pasar sebenarnya cukup besar karena terdapat sekitar 50 ribu warga Sulawesi yang tinggal di Sabah, khususnya Tawau. Selama ini, mereka harus menempuh jalur jauh melalui Kuala Lumpur untuk menuju Sulawesi. “Kalau nanti ada penerbangan minimal Tawau–Tarakan, mereka bisa singgah di sini dua malam, ini jelas memberi manfaat besar,” paparnya.
Bagi sektor pariwisata, penerbangan internasional ini akan menghidupkan biro perjalanan, hotel, hingga UMKM. Ivan mengatakan travel agent di Tarakan bahkan sudah menyiapkan program wisata yang bisa ditawarkan ke wisatawan Malaysia. “Program-program travel itu sudah berjalan, tinggal menunggu akses penerbangan agar lebih bermanfaat,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia berharap pemerintah daerah dan pengelola bandara segera mengadakan pertemuan resmi dengan maskapai sebelum Oktober 2025. Menurut Ivan, peluang AirAsia membuka rute internasional dari Kinabalu atau Tawau ke Tarakan sangat masuk akal. “Kalau tidak dari Kinabalu–Tarakan, setidaknya Tawau–Tarakan, nanti bisa konek ke Balikpapan atau Surabaya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







