benuanta.co.id, BULUNGAN – Masih ingat dengan balita bernama GA usia 4 bulan asal Desa Apung yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Wahidin Sudirohusodo Kota Makassar karena gagal ginjal akut misterius. Setelah mendapatkan perawatan, bayi GA dinyatakan meninggal dunia.
Hal itu diungkapkan oleh orang tua balita GA, Daning Angga jika anaknya yang dirujuk sejak 23 Oktober 2022 kondisinya terus menurun.
“Meninggal di Makassar pada hari Senin (7 November 2022), kondisinya saat dirawat makin lama makin menurun,” ucapnya, Jumat 11 November 2022.
Kata dia, saat dirawat di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo, bayi GA sempat diberikan penanganan infus dan injeksi lalu terakhir sempat diberikan obat yang berasal dari Jakarta.
“Saya di Makassar ada 12 hari, ketika dinyatakan meninggal hari Selasa (8 November 2022) langsung saya pulangkan ke Apung,” tuturnya.
Tak sampai di situ, orang tua GA juga sempat terkendala biaya ketika jenazah hendak dipulangkan. Pasalnya saat meninggal pihak rumah sakit lalu membawanya ke jasa pengiriman kargo khusus membawa jenazah.
“Jadi biaya memulangkannya menggunakan kargo mencapai Rp 23 juta, ada di dokumennya (tertulis),” sebutnya.
Daning Angga menyayangkan sejak anaknya dirujuk hingga anaknya dikembalikan ke Bulungan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan belum pernah menghubunginya.
“Mulai awal anak saya sakit sampai detik ini belum ada hubungi saya sama sekali,” bebernya.
“Sementara di beritanya kemarin itu, mereka seakan-akan membantu saya dan segala macamnya membantu meringankan tapi tidak,” tambahnya.
Untuk itu pihaknya meminta bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan telah diberikan bantuan biaya pulang. Sementara biaya pemulangan jenazah GA yang menghabiskan biaya Rp 23 juta itu merupakan hasil pinjaman orang.
“Inilah yang buat stres, akhirnya saya pinjam ke saudara dan saudara pinjam ke temannya akhirnya ada terkumpul Rp 23 juta,” paparnya.
Dia mengharap ada perhatian pemerintah atas biaya yang telah dikeluarkannya, minimal dapat meringankan yang telah dipinjam untuk membayar kargo.
“Saya tidak menuntut semuanya, yang penting bisa meringankan beban saya, karena juga orang susah tinggal di Apung. Makanya saya bingung,” pungkasnya. (*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: Yogi Wibawa







