LPTT: Kesederhanaan Warnai Perayaan Imlek 2577 Kongzili di Tanjung Selor, Barongsai dan Pawai Ditiadakan

benuanta.co.id, BULUNGAN – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Tanjung Selor, kabupaten Bulungan, tahun ini berlangsung lebih sederhana. Sejumlah agenda yang biasanya menjadi daya tarik utama dipastikan tidak digelar.

Ketua Lembaga Pelestarian Tradisi Tionghoa (LPTT) Tanjung Selor, Satya Bahari, mengatakan keputusan itu diambil karena momentum Imlek berdekatan dengan bulan suci Ramadan.

“Biasanya ada rangkaian kegiatan seperti pawai mobil hias, pertunjukan barongsai, dan kegiatan lainnya. Tapi tahun ini kita menyesuaikan, menghormati saudara-saudara Muslim yang akan menjalankan ibadah puasa,” ucap abay sapaan akrabnya.

Menurut dia, pawai mobil hias dan pertunjukan barongsai yang selama ini menjadi hiburan masyarakat ditiadakan sebagai bentuk penghormatan. Selain itu, pelaksanaan kegiatan pada malam hari juga dinilai berpotensi terkendala waktu dan perizinan.

Baca Juga :  Laporan Dugaan Percobaan Pemerkosaan Perawat RSUD Tanjung Selor Masih Bergulir di Polda Kaltara

Abay menjelaskan, rencana pertunjukan barongsai sebenarnya masih ada, namun sulit direalisasikan. Jika digelar setelah salat tarawih, waktu pelaksanaan dinilai terlalu malam. “Kalau menunggu tarawih selesai berarti sekitar pukul 21.00 sampai 22.00 baru dimulai. Kasihan anak-anak yang bermain. Belum lagi harus mengurus izin keramaian,” jelasnya.

Meski tanpa kemeriahan hiburan, rangkaian utama Imlek tetap dilaksanakan. Ibadah, tradisi berkumpul bersama keluarga, dan makan malam bersama tetap menjadi bagian penting dalam perayaan.

Abay mengatakan, perayaan Imlek berlangsung hingga 15 hari, meski kunjungan keluarga dan kerabat biasanya ramai pada empat sampai lima hari pertama. “Kalau tamu-tamu biasanya empat sampai lima hari. Tapi perayaan Imlek sendiri sampai hari ke-15,” katanya.

Baca Juga :  Gempa M 3,8 Guncang Bulungan, BMKG: Dipicu Aktivitas Sesar Lokal

Ia menambahkan, sejumlah tradisi lama masih dipertahankan, seperti larangan menyapu atau membuang air pada hari pertama Imlek. Tradisi itu dipercaya sebagai simbol agar rezeki tidak ikut terbuang. “Hari pertama itu biasanya tidak boleh menyapu atau membuang air sembarangan di rumah. Itu simbol supaya rezeki tidak ikut terbuang,” ujarnya.

Selain itu, makan malam bersama keluarga besar tetap menjadi momen yang paling dinanti. Menurut Abay, banyak anggota keluarga yang merantau pulang untuk merayakan Imlek bersama. “Yang paling utama itu makan bersama keluarga. Anak-anak yang merantau biasanya pulang. Itu yang paling kita tunggu,” katanya.

Baca Juga :  DP3AP2KB Bulungan Catat 2 Ribu Lebih Anak Tidak Sekolah

Saat ini, jumlah warga Tionghoa di Tanjung Selor mencapai ribuan jiwa. Meski sebagian generasi muda berada di luar daerah untuk bekerja atau menempuh pendidikan, suasana Imlek tetap berlangsung penuh kebersamaan.

Abay berharap perayaan Imlek tahun ini membawa kedamaian dan memperkuat rasa saling menghormati di tengah masyarakat. “Yang penting kita bisa merayakan dengan damai, saling menghormati, dan tetap menjaga tradisi,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *