Kejadian Bencana di Kaltara Menurun pada 2025

benuanta.co.id, BULUNGAN – Sosialisasi mitigasi dan kesiapsiagaan relawan bencana provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan rangkaian dari Peringatan hari kesiapsiagaan bencana (HKB) yang jatuh setiap tanggal 26 April.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi Kaltara, Andi Amriampa, sosialisasi mitigasi dan kesiapsiagaan tentunya melibatkan seluruh pentahelix yang ada terutama OPD terkait. Dalam kegiatan tersebut diharapkan ada keterpaduan, kesamaan cara pandang seluruh pentahelix yang ada dalam rangka memberikan pemahaman terkait langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di Kaltara.

Baca Juga :  Program MBG Ramadan di Tanjung Selor Tuai Kritik, Begini Jawaban Korwil BGN Bulungan

Ia membeberkan bencana yang terjadi tahun 2024 di antaranya, banjir sebanyak 33 kejadian, tanah longsor 58 kejadian, Karhutla 103 kejadian, kebakaran bangunan 69 kejadian, gempa bumi 2 kejadian dan abrasi 2 kejadian. Sementara pada 2025 per April bencana yang terdata terjadi di Kaltara di antaranya banjir 5 kejadian, tanah longsor 9 kejadian dan Karhutla 2 kejadian

Andi Amrimpa menjelaskan, berdasarkan data di tahun 2025 indeks resiko bencana mengalami penurunan.

Baca Juga :  Syarwani Instruksikan Dishub Siapkan Revisi Perbup Nomor 39 Tentang Bagi Hasil Pengelolaan Parkir

“Kalau dalam kejadian bencana Karhutla paling tinggi, disusul banjir dan tanah longsor,” ucapnya, Senin (28/4/2025)

“Karhutla terjadi paling banyak di daerah Kabupaten Bulungan dan Nunukan yang mana itu disebabkan oleh hidrometeorologi yang menyebabkan kekeringan dan bisa menyebabkan kebakaran. Tapi banyak penyebab sebetulnya dalam kondisi kekeringan itu seperti membuka lahan dan lain sebagainya,” lanjut Andi Amrimpa.

BPBD terus melakukan sosialisasi terkait mitigasi bencana Karhutla, banjir dan longsor. Untuk bencana Karhutla, diharapkan seluruh stakeholder terkait dapat menguasai dan memantau secara sistematis  kondisi yang bisa menimbulkan kebakaran hutan.

Baca Juga :  Kawasan Siring Tanjung Selor Magnet Nongkrong, Sampahnya Perlu Dikondisikan

“Di beberapa titik lokasi itu ada komunitas masyarakat Peduli Api (MPA) ini sebenarnya kelompok masyarakat yang merupakan masyarakat yang dibangun oleh teman-teman kehutanan agar bisa melakukan partisipasi masyarakat dalam rangka mitigasi bencana,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ikke
Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *