The New York Times, mengutip dua pejabat yang diberi pengarahan tentang diplomasi tersebut, mengatakan bahwa usulan tersebut disampaikan melalui Pakistan dan menguraikan langkah-langkah untuk mengatasi program nuklir dan rudal balistik Iran serta keamanan maritim di Selat Hormuz.
Laporan tersebut mengatakan masih belum jelas apakah Iran akan menerima usulan tersebut atau apakah Israel mendukungnya, karena perang — yang kini memasuki minggu keempat — terus berlanjut dengan serangan AS-Israel dan pembalasan Iran.
Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, telah muncul sebagai perantara kunci antara Washington dan Teheran, dengan Islamabad memberi sinyal kesiapannya untuk menjadi tuan rumah pembicaraan jika kedua pihak setuju, menurut para pejabat yang dikutip oleh laporan tersebut.
Pada Senin (23/3), Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda lima hari untuk serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, dengan alasan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Teheran selama dua hari terakhir.
Para pejabat Iran mengatakan mereka telah menerima pesan dari beberapa “negara sahabat” yang menyampaikan permintaan AS untuk negosiasi guna mengakhiri perang, sambil membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington.
AS dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel bersama dengan Yordania, Irak dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Sumber : Antara







