benuanta.co.id, TARAKAN – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Tarakan dimaknai sebagai momentum penyucian diri melalui pengendalian emosi, keinginan, hingga aktivitas sehari-hari.
Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tarakan, I Nengah Pariana menjelaskan, inti dari perayaan Nyepi terletak pada pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
Ia merinci, empat pantangan utama tersebut yakni Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan), Amati Karya (tidak bekerja), dan Amati Lelungan (tidak bepergian).
“Amati geni itu mengendalikan emosi, karena api identik dengan sifat yang meletup-letup. Kemudian amati lelanguan, kita mengekang keinginan untuk bersenang-senang, tidak ada hiburan seperti televisi atau ponsel,” jelasnya.
Selain itu, umat Hindu juga tidak melakukan aktivitas kerja sebagai bentuk refleksi agar tidak terus-menerus mengejar materi. Menurutnya, seluruh rangkaian tersebut bukan sekadar larangan, melainkan upaya memperdalam keimanan.
“Semua itu bukan sekadar tidak keluar rumah atau tidak menonton, tetapi bagian dari upaya mematangkan keimanan,” tegasnya.
Ia menambahkan, Nyepi dilaksanakan selama 24 jam, mulai pukul 06.00 hingga 06.00 keesokan harinya, dengan fokus utama pada perenungan dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Mereka ibadah tidak boleh melakukan apa pun, hanya bersemedi, mengingat Tuhan. Setelah pukul 06.00 barulah aktivitas kembali berjalan,” ujarnya.
Bahkan, dalam pelaksanaannya, umat Hindu juga membatasi komunikasi, termasuk tidak menggunakan telepon genggam.
“HP mati berarti. Jadi kalau menghubungi umat Hindu pada hari Nyepi memang agak sulit,” tambahnya.
Ia juga menegaskan, setelah Nyepi, umat Hindu akan memanfaatkan momentum untuk saling bersilaturahmi dan membuka lembaran baru.
“Besoknya baru kita bisa saling kunjung-mengunjungi, saling memaafkan, dan membangun masa yang baru,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







