Cuaca Ekstrem Ancam Nelayan, Standar Keselamatan Belum Terpenuhi

benuanta.co.id, TARAKAN – Cuaca ekstrem menjadi tantangan dan resiko tersendiri bagi keselamatan nelayan. Rutinitas mengarungi lautan dengan target penangkapan ikan, dihantui resiko kecelakaan laut apabila naas cuaca tak mendukung. Kendati demikian, nelayan belum menerapkan secara penuh standar keselamatan.

Seperti dijelaskan seorang nelayan yang juga aktif di Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kaltara, bahwa para nelayan kerap berhadapan dengan resiko laka laut bila cuaca ekstrim.

Tak jarang di perairan Kaltara kejadian itu menghampiri nelayan. “Cuaca saat ini, jadi ancaman besar bagi nelayan. Dilain sisi kita harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan. Selama ini antisipasi nelayan hanya mengurangi waktu melaut sambil melihat situasi dan kondisinya,” ungkap Ketua KNTI Kaltara, Rustan kepada benuanta.co.id.

Baca Juga :  Disdikbud Kaltara Telusuri Video Pelajar SMA yang Asik Nongkrong di Jam Pelajaran

Rustan pun mengaku, sarana keselamatan yang dimiliki nelayan masih tergolong alami, belum memenuhi standar keselamatan dan berbasis teknologi canggih. Karena hal itu, ia berpesan kepada seluruh nelayan untuk waspada dan mengutamakan keselamatan.

“Hanya pelampung renang, bisa juga jeriken dan peti ikan. Kalau baju pelampung renang itu gak lama bertahannya, paling 6 bulan sudah lapuk kena panas. KNTI juga mengimbau nelayan dan memberitahukan prediksi cuaca BMKG, namun hal itu tidak menjamin karena nelayan harus tetap mencari nafkah,” urainya.

Dirinya menerangkan, bila memasuki waktu dini hari, waktu tersebut kerap dihampiri cuaca ekstrim yang membahayakan nelayan ketika beroperasi. Sekitar pukul 00.00 WITA sampai pukul 05.00 WITA, di tengah laut pasti dilanda angin kencang, gelombang, hujan deras dan juga gelap.

Baca Juga :  Zakat Profesi Jadi Penyumbang Terbesar di BAZNAS Tarakan

“Kalau sudah datang kondisi seperti itu, biasanya kita pasrah saja sambil menyiapkan strategi untuk menyelamatkan diri,” ucap Rustan Senin (18/4/2022).

“KNTI memimbau nelayan apabila menghadapi cuaca ekstrem, berlindung saja di pulau-pulau. Kemudian bila cuaca semakin membaik, baru dilanjutkan melautnya. Atau juga tunda dulu melautnya kalau cuaca ekstrem,” tuturnya.

Beberapa waktu ini, Kasat Polair Polres Tarakan, IPTU Jamzani berpesan kepada nelayan agar lebih waspada dan mengendapkan keselamatan saat berlayar.

Perwira polisi dengan pangkat balok dua itu, mengedukasi nelayan dan seluruh masyarakat agar memanfaatkan informasi cuaca yang dikabarkan BMKG setiap harinya. Hal itu menurutnya, agar nelayan dapat mengetahui kondisi cuaca saat tengah melaut.

Baca Juga :  1.494 Kendaraan Terjaring Razia Pajak Kendaraan di Tarakan

Jamzani mengimbau, sebaiknya nelayan bila terjadi cuaca buruk, agar lebih kedepankan keselamatannya dengan mengetahui kondisi angin, badai dan cuaca lainnya.

“Paling penting itu melihat cuaca, di BMKG selalu mengupdate setiap hari. Paling penting nakhoda harus mengetahui situasi cuaca saat berlayar. Saya menginfokan kepada nelayan yang beroperasi malam hari, agar keamanannya diperhatikan betul-betul dan menyiapkan pelampung, alat penerangan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tutup dia. (*)

Reporter: Kristianto Triwibowo

Editor: Matthew Gregori Nusa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *