benuanta.co.id, TARAKAN – Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu di Kota Tarakan digelar sederhana pada 3 Maret 2022. Tahun baru Saka 1943 ini juga dikenal dengan istilah Day of Silence secara internasional.
Bertempat di Pura Agung Giri Jagadnatha, umat Hindu menggelar sembahyang pada Rabu, 2 Maret 2022 malam. Acara sakral ini berlangsung kurang lebih dua jam lamanya.
“Perayaan Nyepi tahun ini diawali dengan kegiatan Melasti, tapi Melasti tahun ini dengan sangat sederhana tapi tidak mengurangi hikmahnya mengingat Tarakan berada pada PPKM level 3,” ungkap Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Tarakan , I Nengah Pariana, Rabu (2/3/2022) malam.
Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan.
“Ini disebut juga proses pembersihan penyucian simbol dewa, yang kami lakukan 27 Februari lalu di Pantai Amal kemudian lanjutnya disini (Pura),” katanya.
Pencucian ini dijelaskan I Nengah adalah proses pembersihan terhadap alam dari makhluk cosmos dan hal yang tidak sesuai dengan keinginan.
Oleh karena itu dalam pensucian ini diharapka mampu menyelaraskan ‘Tri Hita Karana’ salah satunya menjaga keharmonisan kehidupan manusia dengan alamnya.
Adapun sembahyang ini bukan sengaja dipilih pada waktu malam hari. Sembahyang dilakukan dengan khusyuk yang diiringi dengan warna pakaian seragam berwarna putih yang memiliki kesan kejernihan pikiran dan kedamaian pikiran.
“Sebetulnya sih kalau waktunya memungkinkan lebih cocok di siang, tapi karena kita di rantau menyesuaikan kepentingan aktivitas satu umat dengan umat lain, karena di Tarakan umatnya beragam dari sisi pekerjaan jadi kami pilih malam hari,” bebernya.
Pelaksanaan sembahyang juga diawali dengan ‘Ngerupuk’ yang dilakukan oleh umat Hindu untuk mengusir makhluk cosmos untuk berada jauh dari manusia. Tradisi Ngerupuk ini, dilakukan dengan cara mengelilingi sekitaran Pura sebanyak tiga kali, dengan membawa berbagai properti seperti dupa, api-apian, alat pembersih dan bebunyian.
“Jadikan kegiatan ini pensucian dan menjaga keharmonisan dengan makhluk Tuhan yg lain, itu menjauhkan ‘bhuta kal’, itu roh jahat agar tidak ke kita umat manusia,” paparnya.
Selain itu, terdapat pula pensucian yang disimbolkan dengan percikan air dari pemangku yang artinya memohon agar air ini mendapat berkah untuk saran pensucian. Namun, hal ini dianggap sebagai kepercayaan yang dikembalikan ke masing-masing individu.
Dalam pelaksanaan sembahyang pun tidak terdapat pembatasan. Karena, umat Hindu di Kota Tarakan hanya sekitar 25 Kepala Keluarga (KK) yang di total kisaran 100 umat.
“Tema Nyepi tahun ini itu adalah aktualisasi nilai-nilai kehidupan beragama dalam mensukseskan program modernisasi beragama itu tema secara nasional itu,” tutur I Nengah.
Terpisah, salah satu umat yang rutin mengikuti rangkaian persembahyangan Shinta mengaku dengan senang hati menyambut Tahun Baru Saka ini.
“Sangat penuh suka ria sekali dalam menyambutnya, dengan serangkaian pensucian semoga di tahun yang baru pengharapan baik akan menjadi baik dan dijauhkan dari hal yang tidak diinginkan,” singkatnya.
Selepas sembahyang, umat Hindu menutupnya dengan makan dan minum bersama dari persembahan yang mereka bawa masing-masing dari rumah. Makanan yang disajikan pun beragam, dari mulai kue bolu, buah-buahan, rengginang dan sebagainya. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Nicky Saputra







