benuanta.co.id, TARAKAN – Over kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Hake Babu telah menjadi persoalan serius yang belum juga dituntaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan selama beberapa tahun terakhir ini.
Menurut Kepala UPT TPA Hake Babu DLH, Abdul Muis, TPA ini juga diperkirakan hanya akan bertahan sekitar lima bulan ke depan.
“Sekarang memang tidak ada space lagi, jadi setiap sampah yang masuk itu ditumpuk ke atas tidak lagi ke samping,” ujar Abdul Muis saat ditemui benuanta.co.id, Senin (13/11/2021).
Penumpukan ratusan ton sampah setiap harinya di TPA ini pun membuat UPT khawatir akan terjadinya longsor hingga ledakan.
“Prediksi kita lima bulan masih bisa bertahan, bisa aja di atas lima bulan. Tapi resikonya tentu lebih besar, seperti longsor, ledakan juga,” katanya.
Hingga saat ini pihaknya juga melakukan upaya minimalisir dampak ledakan di TPA, misalnya memasang beberapa pipa gas metan. Pemasangan pipa itu berfungsi sebagai penyalur gas yang dihasilkan sampah. Jika tidak begitu, sampah yang ditumpuk terlalu lama akan bisa longsor.
“Kita sudah bikin pipa gas metan dan sudah dipasang beberapa, tapi belum semua. Idealnya memang di beberapa titik karena kita ini ada 12 titik ya,” jelasnya.
Kendati overload, ia menegaskan bukan berarti masyarakat Tarakan tidak boleh membuang sampah.
“Kita hanya terima sampah rumah tangga, kalau dahan dan sampah industri itu tidak boleh ke sini dulu. Sampah-sampah bangunan atau material bisa aja ke sini kalau sedikit, tapi kalau banyak ya kita tidak bisa,” tegasnya.
Terlebih mendekati perayaan Natal dan Tahun baru, dia menyebut adanya lonjakan sampah masih dapat diakumulasikan.
“Penambahan sampah itu akumulasi aja. Sebenarnya sama aja kayak hari biasa, kalau Natal anggota ada yang merayakan jadi ngambil sampahnya biasanya besoknya baru banyak,” tutupnya. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Yogi Wibawa







