Penyakit ISPA di Tarakan Tembus 777 Kasus, Meningkat 61,5 Persen Sepanjang Karhutla

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Tarakan mengalami peningkatan selama empat pekan berturut-turut. Berdasarkan laporan mingguan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, jumlah kasus naik dari 481 pada minggu ke-36 menjadi 777 kasus pada minggu ke-39 tahun 2026.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Tarakan, Rinny Faulina, mengatakan peningkatan tersebut terpantau melalui laporan mingguan W2 yang digunakan dalam pemantauan penyakit.

“Kalau untuk laporan ISPA dari laporan W2 mingguannya kita, memang dari minggu ke-36 sampai di minggu ke-39 itu terjadi peningkatan memang, untuk kasus ISPA,” ujarnya.

Berdasarkan data yang disampaikan, pada minggu ke-36 tercatat 481 kasus ISPA. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 609 kasus pada minggu ke-37, bertambah menjadi 619 kasus pada minggu ke-38, hingga mencapai 777 kasus pada minggu ke-39.

Baca Juga :  Iming-iming Masuk Fakultas Kedokteran, Oknum Dosen di Makassar Tipu Korban hingga Rp 650 Juta

Dengan demikian, terdapat penambahan 296 kasus dalam tiga pekan, atau meningkat sekitar 61,5 persen dibandingkan minggu ke-36. Kenaikan ini menunjukkan tren yang perlu menjadi perhatian, terutama untuk melihat perkembangan kasus dan faktor yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

Rinny menjelaskan, kondisi cuaca yang berubah-ubah diduga dapat memperburuk kondisi sebagian warga, khususnya mereka yang sebelumnya telah memiliki riwayat gangguan pernapasan atau mengalami gejala seperti batuk dan pilek.

“Mungkin ada saja juga yang memang punya riwayat sebelumnya ada riwayat ISPA, ataupun ada yang memang ada batuk pilek. Dengan adanya kondisi cuaca yang begini akhirnya memperparah kondisi mereka sehingga mengarah ke ISPA,” jelasnya.

Baca Juga :  15 Anak Jalani Pidana di Lapas Tarakan, Hak Pendidikan Tetap Dipenuhi

Kendati demikian, pengaruh cuaca tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama kenaikan kasus. Diperlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan, termasuk karakteristik pasien dan persebaran kasus di setiap wilayah pelayanan kesehatan.

Di sisi lain, Dinkes Tarakan belum dapat memastikan wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi. Rinny menyebut data yang diterima masih baru sehingga belum selesai dipilah berdasarkan puskesmas.

“Saya belum memilah. Ini baru masuk, jadi kami belum memilah per puskesmasnya. Mana puskesmas wilayah mana yang tertinggi kasusnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Efisiensi Hentikan Kerja Tim Hunting, Penanganan Banjir Tarakan Terkendala

Pemetaan tersebut penting untuk mengetahui apakah kenaikan kasus terkonsentrasi di wilayah tertentu atau terjadi secara merata di Kota Tarakan. Data berdasarkan wilayah juga dapat menjadi dasar bagi puskesmas untuk memperkuat pemantauan, edukasi kesehatan, serta upaya pencegahan sesuai kebutuhan masyarakat.

Dinkes Tarakan turut memantau perkembangan penyakit melalui sistem surveilans kewaspadaan dan respons dini, terutama untuk penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Dengan tren ISPA yang terus meningkat hingga minggu ke-39, perkembangan laporan mingguan berikutnya menjadi penting untuk melihat apakah kenaikan berlanjut atau mulai melandai. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina