benuant.co.id, TARAKAN – Kabut asap masih mendominasi kondisi cuaca di Kota Tarakan selama sepekan ke depan. Berdasarkan pemantauan terbaru, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Tarakan tercatat berada di angka 95 atau kategori sedang. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Forecaster On Duty KG Kota Tarakan, Ida Bagus Gede Yamuna Ceswaraningrat, menjelaskan bahwa potensi hujan masih akan mewarnai kondisi cuaca di Tarakan dalam beberapa hari mendatang. Hujan lokal berpotensi terjadi pada siang hari ini, sedangkan dalam tiga hari ke depan hujan diprakirakan lebih merata di wilayah Tarakan, terutama pada periode tengah malam hingga pagi hari.
“Secara umum, kondisi cuaca di Kota Tarakan selama sepekan ke depan masih didominasi oleh kabut asap. Terdapat potensi hujan lokal pada siang hari ini,” ungkapnya, Senin (19/10/2026).
Meski hujan berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, intensitas dan frekuensinya diperkirakan tidak bertahan sepanjang pekan. Memasuki hari keempat hingga hari ketujuh, potensi hujan diprakirakan mulai mengalami penurunan sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan kondisi cuaca.
“Selanjutnya, tiga hari ke depan terdapat potensi hujan yang merata di wilayah Tarakan pada periode tengah malam hingga pagi hari. Intensitas dan frekuensi hujan diperkirakan akan mulai mengalami penurunan pada hari keempat hingga hari ketujuh,” jelasnya.
Dari sisi suhu dan kelembapan, suhu udara di Tarakan diprakirakan berkisar antara 25 hingga 32 derajat Celsius. Sementara itu, kelembapan udara berada pada rentang 63 hingga 98 persen. Kondisi tersebut menjadi bagian dari gambaran cuaca yang perlu diperhatikan masyarakat ketika merencanakan aktivitas sehari-hari.
“Suhu udara rata-rata diperkirakan berada pada rentang 25–32 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan udara berkisar antara 63–98 persen,” katanya.
Selain suhu dan kelembapan, kecepatan angin di Tarakan umumnya diprakirakan berada pada kisaran 3 hingga 8 knot. Namun, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi peningkatan kecepatan angin yang dapat melebihi 10 knot, khususnya ketika hujan terjadi pada tengah malam.
“Untuk kecepatan angin umumnya berkisar antara 3–8 knot. Namun, perlu diwaspadai adanya potensi peningkatan kecepatan angin yang dapat melebihi 10 knot, terutama saat terjadi hujan pada waktu tengah malam,” bebernya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan terbaru yang disampaikan BMKG, kualitas udara di Kota Tarakan berada pada kategori sedang dengan nilai ISPU 95. Angka tersebut menjadi salah satu indikator kondisi kualitas udara yang perlu diperhatikan masyarakat, terutama ketika kabut asap masih mendominasi cuaca. Meski demikian, kategori sedang tidak berarti kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat, sehingga masyarakat perlu memahami kondisi tersebut secara proporsional.
“Berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terbaru saat ini, kualitas udara di Kota Tarakan berada pada kategori sedang dengan nilai angka 95,” terangnya.
Menyikapi kondisi kabut asap dan kualitas udara tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak memiliki keperluan mendesak. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker sebagai langkah pencegahan untuk mengurangi paparan polutan di udara.
“Mengingat kondisi cuaca yang didominasi kabut asap dan kualitas udara pada kategori sedang, kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, serta selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar,” tegasnya.
BMKG juga meminta masyarakat untuk tidak mengabaikan perkembangan informasi cuaca selama sepekan ke depan. Pemantauan secara berkala diperlukan agar warga dapat mengetahui perubahan kondisi cuaca, termasuk potensi hujan dan peringatan dini apabila terjadi kondisi yang perlu diwaspadai.
“Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau update informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG melalui aplikasi Info BMKG atau kanal-kanal resmi kami lainnya,” tandasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







