benuanta.co.id, TARAKAN – Penanganan kebakaran batu bara di RT 63, Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, dilakukan dengan metode khusus karena titik bara berada di lereng tanah yang berdekatan dengan dinding rumah warga. Petugas pemadam kebakaran tidak langsung mengupas lapisan tanah, melainkan membuat lubang biopori untuk membantu air meresap hingga ke bagian batu bara yang terbakar.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Tarakan, Eko Supriyatnoko, mengatakan kondisi lokasi menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. Selain berada di tanah miring, titik kebakaran memiliki lubang menganga dengan diameter diperkirakan mencapai 2,5 meter dan berjarak sangat dekat dari bangunan warga.
“Dinding rumah itu kita pegang sudah terasa panas. Artinya, panas yang memapar dinding rumah di situ juga ada kusen. Kalau kita lambat menangani, bisa jadi kusennya terbakar,” ungkapnya.
Menurutnya, batu bara tersebut diperkirakan telah terbakar lebih dari tiga pekan. Kondisi itu membuat penanganan harus dilakukan secara hati-hati, terlebih pengupasan batu bara secara langsung dikhawatirkan justru memperbesar kobaran api. Pengalaman penanganan kebakaran batu bara sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan tim dalam menentukan metode yang digunakan.
Dalam penanganan tersebut, Damkar mengerahkan sekitar 26 personel dari Regu B yang berasal dari markas komando serta sektor barat dan utara. Petugas bekerja bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melakukan pendinginan serta mengamankan area di sekitar titik kebakaran.
Eko menjelaskan, petugas membuat belasan lubang biopori menggunakan alat bor manual dengan kedalaman bervariasi, mulai dari sekitar 0,5 meter hingga 1,5 meter, sampai mencapai lapisan batu bara. Lubang-lubang tersebut digunakan sebagai jalur masuk air agar pendinginan dapat menjangkau bagian dalam, bukan hanya permukaan yang terlihat terbakar.
Selain itu, petugas membuat tanggul dari karung berisi pasir di bagian bawah lereng untuk menahan air agar tidak langsung mengalir keluar. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tanah dan bangunan di sekitarnya yang berisiko terdampak panas.
Untuk membantu air meresap ke pori-pori batu bara, tim menggunakan campuran air dan deterjen pencuci piring. Penyemprotan dilakukan bertahap sebelum petugas menggunakan tekanan air lebih tinggi pada bagian bara yang menganga. Metode tersebut dipilih agar proses pendinginan berlangsung lebih terkendali.
“Kita tidak berani langsung jet karena khawatir ada bagian yang pecah di dalam kalau uapnya banyak. Kita semprot pelan-pelan sampai air meresap,” jelasnya.
Penanganan berlangsung sekitar tiga jam, termasuk pembuatan lubang biopori dan tanggul pasir. Setelah penyemprotan, petugas menunggu untuk memastikan asap tidak kembali muncul, kemudian memeriksa suhu material yang terbakar. Jika masih panas, proses pendinginan kembali dilakukan hingga kondisi dinilai aman.
Sementara itu, Lurah Karang Anyar, Lendro Kurniawan, mengatakan kejadian tersebut diduga bermula ketika pemilik rumah membersihkan pekarangan dan membakar ranting serta daun kering. Namun, api yang hendak dipadamkan tidak kunjung mati hingga akhirnya dilaporkan kepada ketua RT dan diteruskan melalui grup tanggap darurat kebencanaan.
“Ketika dia mematikan itu kok enggak mati-mati, barulah lapor ke RT,” ujarnya.
Lendro menyebut, berdasarkan keterangan pemilik rumah, batu bara tersebut diduga telah membara selama sekitar dua pekan sebelum penanganan dilakukan. Pihak kelurahan bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) kemudian meninjau lokasi pada Ahad, 11 Oktober 2026, sebelum penanganan dikoordinasikan bersama instansi terkait.
Ia menjelaskan, keberadaan material hitam yang diduga batu bara juga terlihat di permukaan sejumlah tanah kosong di kawasan Karang Anyar. Namun, kelurahan belum memiliki pemetaan teknis untuk memastikan sebaran maupun kedalaman lapisan batu bara tersebut.
“Kalau itu kami enggak, karena bukan bidang teknis kami. BPBD, DLH atau PU biasa bisa melacaknya,” jelasnya.
Lendro mengatakan, kelurahan telah menyampaikan imbauan melalui grup RT agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, terutama di pekarangan yang diduga mengandung batu bara. Hingga wawancara dilakukan, titik di RT 63 tersebut menjadi satu-satunya laporan kejadian serupa yang diketahui pihak kelurahan.
Dirinya menegaskan, meskipun penanganan utama telah selesai, pemantauan tetap diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali asap atau bara. Lendro juga menyampaikan, ketua RT telah memeriksa lokasi setelah pendinginan dan melaporkan tidak ada lagi asap maupun panas. Warga tetap diminta segera melapor jika menemukan tanda-tanda kebakaran kembali muncul. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







