benuanta.co.id, TARAKAN – Kualitas udara di Kota Tarakan terpantau berada pada kategori tidak sehat akibat kabut asap yang masih menyelimuti wilayah tersebut. Berdasarkan pemantauan, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 berkisar antara 57–62 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Sementara itu, cuaca Tarakan dalam sepekan ke depan diprakirakan cerah hingga cerah berawan pada pagi hingga malam hari.
Forecaster On Duty BMKG Tarakan, M. Hatta Rachim, menjelaskan bahwa kondisi kualitas udara tersebut berkaitan dengan kabut asap yang masih terjadi di Tarakan. Berdasarkan pemantauan citra satelit dalam 24 jam terakhir, tidak terpantau titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan Utara. Sebaliknya, titik panas didominasi wilayah Kalimantan Timur sehingga kabut asap yang menyelimuti Tarakan diduga merupakan kiriman dari luar Kalimantan Utara.
“Kualitas udara di Kota Tarakan pada hari ini terpantau pada kategori tidak sehat,” ungkapnya, Selasa (13/10/2026).
Di tengah kondisi tersebut, cuaca Tarakan selama sepekan ke depan diprakirakan didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan, mulai pagi hingga malam hari. Kondisi ini menjadi gambaran cuaca harian yang perlu diperhatikan masyarakat, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
“Secara umum, kondisi cuaca Kota Tarakan dalam seminggu ke depan diprakirakan cerah hingga cerah berawan pada pagi hingga malam hari,” jelasnya.
Untuk kondisi suhu udara, rata-rata harian di Tarakan diprakirakan berkisar antara 28–30 derajat Celsius. Suhu minimum berada pada kisaran 25–26 derajat Celsius, sedangkan suhu maksimum mencapai 31–33 derajat Celsius. Kelembapan udara diprakirakan berkisar antara 65–90 persen.
“Suhu udara minimum diprakirakan 25–26 derajat Celsius dan maksimum 31–33 derajat Celsius,” bebernya.
Sementara itu, berdasarkan analisis streamline pada lapisan atmosfer 3.000 kaki, arah angin di wilayah Tarakan didominasi dari tenggara hingga barat daya. Kecepatan angin bervariasi antara 5–8 knot. Kondisi arah dan kecepatan angin tersebut menjadi bagian dari parameter meteorologi yang dipantau BMKG dalam menganalisis kondisi cuaca di wilayah Tarakan.
“Untuk kondisi angin saat ini, arah angin didominasi dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan variabel 5–8 knot,” terangnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar.
“Masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas serta potensi kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Kawasan yang perlu mendapat perhatian meliputi lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering karena rentan terbakar. Upaya pencegahan melalui pengendalian aktivitas pembakaran dinilai penting untuk mengurangi risiko kebakaran yang dapat memperburuk kondisi lingkungan dan kualitas udara.
“Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar,” katanya.
Selain mengantisipasi potensi kebakaran, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan langsung kabut asap. Warga juga diminta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, guna menghindari dehidrasi dan kelelahan.
“Masyarakat diimbau untuk menggunakan pelindung masker untuk mengurangi paparan langsung kabut asap serta menjaga kecukupan cairan tubuh,” imbuhnya.
BMKG turut meminta masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca dan peringatan dini melalui saluran informasi resmi. Informasi tersebut dapat diakses melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg dan @bmkgtarakan. Langkah antisipatif juga perlu dilakukan untuk mengurangi risiko akibat cuaca ekstrem, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







