benuanta.co.id, TARAKAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan mengakui masih terdapat dua titik yang dinilai rawan dari sisi keamanan bangunan. Kondisi tersebut berkaitan dengan ketinggian tembok pembatas yang belum mencapai standar ideal.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, mengatakan dua titik rawan tersebut berada di sisi kiri dan kanan area Lapas. Kondisi itu dinilai berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban apabila tidak segera diperbaiki.
“Sebenarnya titik rawannya ada dua titik, yang di samping sini sama yang di sini, kiri kanan ini,” ujarnya.
Menurutnya, ketinggian tembok yang ada saat ini masih kurang dari dua meter. Sementara untuk kondisi ideal, tembok pembatas seharusnya memiliki ketinggian lebih dari tiga meter.
“Harusnya bangunannya lebih tinggi lagi, setinggi dengan tembok ini. Paling tidak itu tiga meter lebih,” jelasnya.
Guna mengantisipasi kondisi tersebut, pihak Lapas memasang kawat berduri dan kawat silet di sejumlah bagian. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah sementara untuk meminimalisasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban.
“Saat ini paling dua meter kurang. Makanya kami siasati pakai kawat berduri, kawat silet, untuk meminimalisir terjadinya gangguan kamtib,” ungkapnya.
Jupri mengungkapkan usulan perbaikan terhadap titik rawan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah pusat sejak sekitar satu tahun lalu. Namun, hingga kini belum ada realisasi pembangunan.
“Kami sudah mengusulkan ke pusat dari sudah setahun yang lalu. Sampai sekarang karena keterbatasan keuangan negara juga terbatas, sehingga belum ada realisasi sampai sekarang,” terangnya.
Di sisi lain, Lapas Tarakan telah memasang sekitar 16 kamera pengawas atau CCTV di sejumlah titik yang dianggap memiliki potensi gangguan keamanan.
Monitor CCTV ditempatkan di ruang pengamanan dan ruang komandan jaga.
Keberadaan CCTV tersebut menjadi salah satu upaya untuk membantu petugas melakukan pemantauan terhadap kondisi di lingkungan Lapas.
Dirinya mengakui jumlah penghuni Lapas dengan jumlah petugas yang tersedia tidak sebanding. Karena itu, pengamanan tidak hanya mengandalkan personel, tetapi juga pemetaan karakter warga binaan serta sarana pengawasan yang tersedia.
“Jumlah penghuni yang ada di Lapas Tarakan ini dengan jumlah petugas itu tidak sebanding. Makanya kita cuma hanya mengandalkan instinct security saja,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







