Dinkes Tarakan Pantau Tren Penyakit Pasca Lebaran, ISPA dan Diare Jadi Perhatian

benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mulai memantau tren penyakit pasca Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Sejumlah penyakit menular dan tidak menular menjadi perhatian, meskipun hingga kini belum terlihat adanya lonjakan kasus yang signifikan.

Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Tarakan, Irwan Iwanda, S.K.M., menjelaskan, tren penyakit pasca lebaran umumnya mulai terlihat beberapa hari setelah perayaan Idulfitri.

“Biasanya setelah beberapa hari pasca lebaran, ada tren penyakit yang kita perhatikan, baik penyakit menular maupun tidak menular,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Sementara itu, penyakit menular, pemantauan dilakukan oleh bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). Beberapa penyakit yang menjadi perhatian antara lain diare, influenza, serta Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

“Contohnya diare, kemudian flu, ISPA, dan penyakit infeksi lainnya,” jelasnya.

Disisi lain, penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, hingga gangguan kesehatan gigi juga masuk dalam pemantauan Dinkes.

Kendati demikian, berdasarkan laporan sementara dari puskesmas, kunjungan pasien pasca lebaran masih tergolong normal.

“Sejak tanggal 25 Maret sampai sekarang, kunjungan masih standar saja, belum ada kenaikan signifikan,” ungkapnya.

Irwan menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap tren penyakit dengan membandingkan 10 besar penyakit antara Februari dan Maret 2026.

“Kalau misalnya di Februari kasus diare 200, lalu di Maret jadi 500, itu tentu jadi perhatian. Tapi saat ini belum kita evaluasi secara detail,” sebutnya.

Data tersebut dihimpun berdasarkan klasifikasi International Classification of Diseases versi 10 (ICD-10) dari enam puskesmas di Tarakan, yang mencakup kasus baru dan lama.

“Fokusnya nanti pada kasus baru, apakah ada peningkatan signifikan atau tidak,” jelasnya.

Selain itu, untuk mendeteksi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB), Dinkes juga mengacu pada laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang dikelola bidang P2P.

“Untuk potensi penyakit yang bisa menjadi KLB, itu lebih rinci di laporan SKDR,” tambahnya.

Dirinya mengakui data yang dihimpun dari puskesmas belum sepenuhnya mencerminkan kondisi kesehatan seluruh masyarakat, karena banyak warga juga berobat ke klinik dan dokter praktik mandiri.

“Kalau mau lihat gambaran satu kota, harus dikompilasi semua datanya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *