Delapan Pos Disiapkan untuk Antisipasi Puncak Arus Mudik Lebaran di Tarakan

benuanta.co.id, TARAKAN – Aparat keamanan bersama instansi terkait mulai mempersiapkan pengamanan menghadapi puncak arus mudik dan arus balik Lebaran 1447 Hijriah. Pengamanan dilakukan melalui Operasi Ketupat Kayan 2026 dengan mendirikan sejumlah pos pengamanan serta memantau berbagai potensi kerawanan, mulai dari stabilitas harga hingga kondisi cuaca.

Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes, mengungkapkan, pemerintah kota bersama aparat keamanan telah mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat berdasarkan prediksi waktu puncak arus mudik dan arus balik yang telah ditetapkan.

“Sesuai amanat dari Kapolri, kita mengantisipasi puncak arus mudik 1447 Hijriah yang diprediksi terjadi pada 14 hingga 15 Maret 2026 serta 18 dan 19 Maret 2026, sementara arus balik diperkirakan pada 24 dan 25 Maret 2026,” ungkapnya, Kamis (12/3/2026).

Selain mempersiapkan pengamanan arus mudik, perhatian juga diberikan pada dampak situasi global yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi daerah, khususnya terkait harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut dinilai dapat berpengaruh terhadap stabilitas sosial masyarakat.

“Kita juga memperhatikan situasi global yang terjadi, di mana perang di kawasan Teluk bisa memengaruhi stabilitas harga, sehingga ini juga menjadi atensi kita,” katanya.

Baca Juga :  Dinkes Tarakan Akan Buka Layanan Cek Kesehatan Gratis di Posko Operasi Ketupat

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah bersama instansi terkait telah melakukan operasi pasar serta inspeksi mendadak di sejumlah pasar tradisional untuk memastikan harga bahan pokok tetap stabil menjelang Lebaran. Upaya ini dilakukan agar kondisi ekonomi tetap terkendali selama periode mudik.

“Pada Kamis 12 Maret 2026 kemarin sudah dilakukan operasi pasar dan Jumat 13 Maret 2026 juga dilakukan sidak pasar untuk memantau stabilitas harga,” jelasnya.

Khairul menegaskan stabilitas harga memiliki kaitan erat dengan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Gangguan ekonomi, menurutnya, berpotensi menimbulkan dampak sosial yang lebih luas apabila tidak diantisipasi sejak awal.

“Keamanan sangat bergantung pada faktor ekonomi, karena faktor ekonomi bisa menimbulkan faktor sosial yang kemudian berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas hingga politik,” tegasnya.

Selain faktor ekonomi, pemerintah juga mencermati kondisi cuaca yang sedang memasuki musim pancaroba. Perubahan cuaca ekstrem dinilai dapat menimbulkan berbagai potensi bencana yang perlu diantisipasi bersama oleh seluruh pihak.

“Kondisi cuaca saat ini musim pancaroba, ada daerah yang mengalami kekeringan dan di sisi lain ada potensi banjir maupun longsor, sehingga ini juga menjadi perhatian kita,” imbuhnya

Baca Juga :  Zakat Profesi Jadi Penyumbang Terbesar di BAZNAS Tarakan

Ia juga meminta aparat keamanan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tindak kriminalitas selama musim mudik, terutama pada rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya. Pengawasan terhadap lingkungan permukiman dinilai penting untuk mencegah terjadinya pencurian maupun pembongkaran rumah kosong.

“Aparat keamanan diminta memetakan rumah-rumah yang ditinggal mudik karena biasanya rumah kosong rawan terjadi pencurian atau pembongkaran,” tukasnya.

Sementara itu, Kapolres Tarakan AKBP Erwin S. Manik, S.H., S.I.K., M.H menyampaikan bahwa Polres Tarakan telah memulai pelaksanaan Operasi Ketupat Kayan 2026 sejak 13 Maret 2026 dengan melibatkan personel gabungan dari berbagai instansi. Operasi ini difokuskan untuk menjamin keamanan dan kelancaran aktivitas masyarakat selama periode mudik dan arus balik Lebaran.

“Kami dari Polres Tarakan mulai 13 Maret 2026, menggelar personel gabungan pengamanan Operasi Ketupat Kayan 2026,” ujarnya.

Dalam operasi tersebut, Polres Tarakan mendirikan delapan pos yang terdiri dari tiga pos pengamanan, empat pos pelayanan, dan satu pos terpadu. Setiap pos memiliki fungsi berbeda dalam mendukung pengamanan selama operasi berlangsung.

Baca Juga :  Disdikbud Kaltara Telusuri Video Pelajar SMA yang Asik Nongkrong di Jam Pelajaran

“Total ada delapan pos, yakni tiga pos pengamanan, empat pos pelayanan, dan satu pos terpadu,” jelas Erwin.

Ia menerangkan pos pengamanan akan difokuskan pada patroli mobile di titik-titik yang memiliki potensi kemacetan maupun kerawanan kriminalitas, sedangkan pos pelayanan memberikan bantuan langsung kepada masyarakat yang melakukan perjalanan mudik.

“Pos pengamanan akan lebih berfungsi untuk mobile patroli di lokasi padat penduduk, titik kemacetan dan kerawanan kriminalitas, sedangkan pos pelayanan memberikan pelayanan kepada masyarakat yang akan mudik maupun saat arus balik,” terangnya.

Adapun pos terpadu yang ditempatkan di Polres Tarakan akan berfungsi sebagai pusat koordinasi apabila terjadi situasi darurat, termasuk bencana alam selama masa pengamanan Lebaran. Pos ini juga menjadi pusat pengendalian operasi selama kegiatan berlangsung.

“Pos terpadu nantinya berada di Polres Tarakan dan akan menindaklanjuti apabila terjadi peristiwa seperti bencana alam,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *