Dinkes Tarakan Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah

benuanta.co.id, TARAKAN – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan terhadap virus nipah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus di Indonesia khususnya di Tarakan.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, mengatakan pihaknya telah menerima surat kewaspadaan dari Kemenkes pada pekan lalu.

Surat tersebut menginstruksikan seluruh fasilitas layanan kesehatan untuk meningkatkan deteksi dini dan koordinasi lintas sektor.

“Sampai saat ini belum ada kasus Virus Nipah ditemukan di Indonesia. Namun minggu lalu kami menerima surat kewaspadaan dari Kemenkes agar puskesmas, dinas kesehatan, rumah sakit, dan Balai Karantina Kesehatan berkolaborasi meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).

Baca Juga :  Warnai Ramadan dengan Kebaikan, PT PRI Buka Puasa Bersama Puluhan Jurnalis

Ia menjelaskan, di pintu-pintu masuk wilayah, pengawasan dilakukan oleh Balai Karantina Kesehatan (BKK) yang sebelumnya dikenal sebagai Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

BKK melakukan skrining terhadap pelaku perjalanan guna mencegah potensi masuknya kasus dari luar negeri.

Sementara itu, Dinkes Tarakan memperkuat sistem surveilans, terutama pada penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA) yang memiliki gejala serupa.

“Kami mengimbau puskesmas meningkatkan surveilans kewaspadaan dini. Jika ada kasus dengan gejala pernapasan, perlu ditelusuri riwayat perjalanan dan riwayat penyakit pasien,” jelasnya.

Selain itu, upaya komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) juga mulai digencarkan melalui media sosial masing-masing puskesmas guna meningkatkan pemahaman masyarakat.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularan umumnya terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar pemakan buah.

Baca Juga :  Potensi Hujan Lebat Dominasi Cuaca Tarakan di Penghujung Ramadan

“Kalau bersumber dari makanan, berarti makanan tersebut sudah terkontaminasi virus, misalnya buah yang tergigit atau terpapar cairan dari hewan pembawa virus. Jika dikonsumsi tanpa dicuci bersih atau dimasak, maka bisa menularkan ke manusia,” terangnya.

Selain dari hewan ke manusia, penularan juga dapat terjadi antar manusia melalui droplet atau percikan saluran pernapasan.

“Penularan antar manusia bisa melalui droplet. Oleh karena itu, jika ada kasus, pasien akan diisolasi dan tenaga kesehatan menggunakan masker. Secara umum penanganannya hampir seperti saat Covid-19,” tuturnya.

Baca Juga :  SPPG Gunung Lingkas 003 Diresmikan, Targetkan 2.500 Penerima Manfaat

Rinny mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi buah dan sayuran. Pastikan membeli buah dalam kondisi utuh dan tidak tergigit hewan.

“Kalau sudah ada bekas gigitan binatang, sebaiknya jangan dikonsumsi. Pastikan juga dicuci bersih sebelum dimakan,” pesannya.

Ia menambahkan, tenaga kesehatan di Tarakan juga telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) terkait tata laksana penanganan jika ditemukan kasus. Pedoman resmi penanganan telah diterbitkan oleh Kemenkes sebagai acuan dalam pencegahan dan pengobatan.

“Saat ini masih dalam tahap peningkatan kewaspadaan. Mudah-mudahan tidak sampai masuk ke Indonesia, tetapi kesiapsiagaan tetap harus dilakukan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *