benuanta.co.id, TARAKAN – Masyarakat Tarakan menyampaikan berbagai harapan kepada walikota Khairul-Ibnu yang baru dilantik, terutama terkait perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan ekonomi.
Beberapa isu yang menjadi perhatian utama warga adalah kondisi jalan, harga komoditas unggulan seperti udang dan rumput laut, kesejahteraan pekerja, serta akses terhadap layanan dasar seperti sambungan air gratis dan jaringan gas rumah tangga.
Direktur Lembaga Pengembangan Pendidikan Dasar Sumber Daya Manusia, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Tarakan, Bahar Mahmud, menyoroti kondisi para guru ngaji yang hingga kini masih bergaji rendah. Menurutnya, insentif yang diberikan kepada guru-guru ngaji di Tarakan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
“Dengan rata-rata gaji sekitar Rp 300 ribu per bulan, banyak di antara mereka yang harus berjuang keras untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.
Bahar menjelaskan meskipun sebagian guru ngaji memiliki pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan utama, ada pula yang sepenuhnya menggantungkan hidup dari mengajar mengaji. Kondisi ini membuat mereka rentan mengalami kesulitan ekonomi, terlebih di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok.
“Seharusnya ada perhatian lebih dari Pemkot untuk memastikan kesejahteraan mereka (guru ngaji),” tegasnya.
Bahar mengungkapkan kondisi langsung bagaimana para guru ngaji di lapangan. Banyak dari mereka yang kehidupannya jauh dari sejahtera. Ia menuturkan, mereka mengajar bukan hanya karena pekerjaan, tetapi juga karena panggilan hati dan ibadah.
“Namun, mereka tetap manusia yang memiliki kebutuhan hidup, dan sudah sepatutnya pemerintah memberikan apresiasi yang lebih layak,” tuturnya.
Lebih lanjut, Bahar menegaskan BKPRMI Tarakan sudah berulang kali menyampaikan aspirasi mengenai kenaikan insentif bagi guru ngaji kepada Pemerintah Kota (Pemkot). Namun, hingga saat ini perubahan yang diharapkan belum juga terwujud secara signifikan.
“Padahal peran guru ngaji dalam membentuk karakter anak-anak dan membangun generasi yang berakhlak baik sangatlah besar,” imbuhnya.
Tak hanya BKPRMI, para guru ngaji sendiri juga merasakan beratnya kondisi ekonomi akibat rendahnya insentif yang mereka terima. Salah seorang guru ngaji di Tarakan, Ahmuddin, mengungkapkan gaji yang diterima jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau hanya mengandalkan gaji dari mengajar mengaji, terus terang tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari. Saya masih harus mencari pekerjaan lain agar bisa menafkahi keluarga,” katanya.
Ahmad berharap pemerintah bisa meningkatkan insentif guru ngaji agar mereka bisa lebih fokus dalam mengajar tanpa harus khawatir dengan kondisi ekonomi mereka. Ia juga menilai perhatian terhadap guru ngaji harus seimbang dengan profesi pendidik lainnya.
“Saya juga berharap ada jaminan kesejahteraan untuk guru ngaji, seperti guru sekolah umum. Kami juga mengajar, membimbing anak-anak, dan ikut mencerdaskan generasi muda, jadi seharusnya ada perhatian lebih,” tandasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







