KTT Krisis Minyak Goreng, Pedagang Kesulitan Terapkan HET

benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Langkanya ketersediaan minyak goreng serta tingginya harga minyak goreng saat ini terjadi di hampir semua daerah di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Namun dibandingkan dengan daerah lain, Kabupaten Tana Tidung (KTT) menjadi daerah dengan kondisi terparah akibat dampak dari krisis minyak goreng.

Pasalnya, di antara daerah lainnya di Kaltara hanya KTT saja yang belum pernah sama sekali menerapkan aturan 1 Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng.

“Bukan tidak mau, tapi kondisi wilayah kita yang membuat para pedagang tidak bisa mengikuti kebijakan itu,” kata kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) KTT, Hardani Yusri.

Pria yang akrab disapa Yusri itu mengatakan tidak adanya distributor langsung, seperti agen dan retail membuat KTT mengalami krisis minyak goreng hingga saat ini.

“Kondisi ini terjadi secara Nasional, hanya saja KTT mengalami dampak yang cukup parah, karena kondisi pasarnya lebih banyak menyuplai dari luar daerah, jadi jangan heran harga minyak goreng saat ini masih melambung tinggi,” bebernya.

Kondisi krisis minyak goreng ini bisa semakin parah, jika pihak pemerintah Provinsi Kaltara tidak turun tangan membantu KTT. Pasalnya, para pedagang lokal di KTT sempat mendapatkan penolakan dari beberapa distributor minyak goreng di Kota Tarakan.

“Syukurnya pihak kementerian melalui Pemprov bisa membantu kita menengahi para pedagang lokal kita dengan pihak distributor minyak goreng,” imbuhnya lagi.

“Alasannya distributor kemarin itu, mereka sudah ada Mou dengan agen langganan tetap mereka. Tapi saat ini sudah mereka salurkan juga di KTT hanya koutanya terbatas, 25 dus paket minyak goreng per Toko,” terangnya.

Di sisi lain, Ambo Waras yang merupakan salah satu pengusaha grosir sembako, mengaku tidak bisa berbuat apa-apa terkait kondisi minyak goreng saat ini. Bahkan, dirinya mengaku kalau dirinya saat ini juga kesulitan mencari minyak goreng.

“Kita belinya juga dibatasi mas, sekali beli hanya boleh menampung 10 dus saja dan itu harus dijual terbatas kepada konsumen. Soalnya arena saat ini kita diawasi dalam menyetok minyak goreng,” kata Ambo.

Sedangkan untuk harga, Ambo menjelaskan naiknya harga minyak goreng itu sudah berasal dari agen tempat ia memesan.

“Harga dari sana memang sudah mahal dan saya pun harus membayar ongkos pengiriman setiap kali memesan dan itu pun dibatasi, jadi saya sebagai pengusaha juga kesusahan,” bebernya lagi.

“Belum lagi untuk dijual dan belum lagi untuk penggunaan pribadi, jadi bisa dikatakan saya juga cukup rugi dalam menjual minyak goreng ini,” tutupnya. (*)

Reporter: Osarade

Editor: Matthew Gregori Nusa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *