benuanta.co.id, BULUNGAN – Pemprov Kalimantan Utara (Kaltara) mulai mengarahkan pengembangan kratom sebagai komoditas unggulan berbasis hilirisasi di wilayah perbatasan. Upaya ini difokuskan pada peningkatan kualitas produksi agar mampu menembus pasar ekspor secara langsung.
Salah satu potensi berada di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan. Selama ini, kratom di wilayah tersebut tumbuh liar dan belum dikelola optimal, sehingga nilai jualnya masih rendah.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltara, Hasriyani, mengatakan pemerintah kini membenahi sektor hulu hingga hilir. Langkah itu termasuk rencana budidaya terarah yang disusun lintas instansi, menyusul survei lapangan pada Desember 2025.
Selama ini, kratom dari Desa Atap dijual dalam bentuk bubuk ke Kalimantan Barat sebelum diekspor. Kondisi itu membuat nilai tambah belum dinikmati masyarakat lokal.
Dalam sekali pengiriman, volume kratom bisa mencapai 20 ton. Namun, kadar mitraginin yang baru sekitar 0,6 persen masih di bawah standar ekspor minimal 1,2 persen.
Menurut Hasriyani, rendahnya kualitas disebabkan tanaman yang masih tumbuh liar tanpa budidaya terkontrol. Pemerintah pun mendorong pola tanam terstruktur guna meningkatkan kualitas dan harga jual.
Saat ini harga kratom di tingkat petani sekitar Rp16 ribu per kilogram. Dengan peningkatan kualitas, nilai ekonomi komoditas ini diyakini bisa naik signifikan.
Pemprov juga mencatat potensi pengembangan lahan sekitar 100 hektare di Desa Atap. Koperasi Merah Putih diharapkan berperan dalam penguatan produksi dan pemasaran.
“Ke depan, kratom tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah bagi masyarakat perbatasan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Ramli







