benuanta.co.id, NUNUKAN – Pulau Nunukan dan Sebatik merupakan penghasil rumput laut tersebar di Kalimantan bagian Utara, bahkan se-Indonesia, namun sampah di Nunukan juga mengalami peningkatan dan dapat menjadi ancaman bagi wilayah ini jika tidak ada langkah konkret dalam penanganannya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan Serfianus, menyampaikan wilayah Nunukan sudah tercemar dengan sampah anorganik, jika berkeliling di pulau Nunukan banyak terlihat botol-botol yang tertimbun lumpur ini adalah masalah serius dan ancaman bagi masyarakat di pulau Sebatik dan Nunukan sebagai penghasil rumput laut.
Menjadi solusi sistem pengolahan sampah dengan inovasi teknologi mesin pencacah sampah dan pengayak kompos yang lebih efektif dan efesien (TPS3R) untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan yang anorganik.
“Walaupun sudah ada baru-baru ini di Nunukan dan baru juga di resmikan di Kelurahan Mansapa, saya belum tahu prodak akhirnya yang diolah dari TPS3R,” kata Serfianus, Sabtu (24/12/2022).
Jika tidak mengambil langkah dalam pengelolaan sampah sebagai sebuah alternatif, selain meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar wilayah Nunukan dan juga mengurangi dampak negatif sampah yang berserakan dimana-mana botol plastik.
“5 tahun hingga 10 tahun ke depan saya tidak bisa bayangkan seperti apa jika sampah botol ini tidak diatasi,” jelasnya.
Selain itu, Serfianus juga menyampaikan mantan Lurah di kecamatan Nunukan Selatan Kelurahan Tanjung Harapan berhasil mengelola anorganik menjadi pelampung rumput laut. Dia juga sudah menguji kekuatan pelampung tersebut yang memiliki ketahanan yang sangat baik.
Industri daur ulang sampah plastik yang dijadikan pelampung rumput laut oleh Bank Sampah Karya Bersama, di Kampung Mamolo, itu memiliki mesin pencetak pelampung ini bisa dikatakan hanya satu-satunya di Kaltara yang ditempatkan di Nunukan.
Ini juga bisa menjadi inovasi di Kabupaten Nunukan untuk mengurangi dampak lingkungan. Dan yang sangat ramah lingkungan yang bisa didaur ulang, serta solusi bagi petani rumput laut.
Jika lingkungan itu bagus maka produksi rumput laut akan terjaga, karena yang di khawatirkan itu adalah air tanah ikut tercemar sehingga dapat berpengaruh ke rumput laut tersebut.
Ketua Bank Sampah Karya Bersama, Habir menyampaikan mesin pencetak pelampung bisa memproduksi 200 bola pelampung, dalam satu kilo cacahan bisa diproduksi 6 pelampung jenis botol yang digunakan merupakan HDPE (High Density Polyethylene).
Sedangkan satu pelampung di bandrol harga Rp13.000 semakin banyaknya permintaan maka diberlakukan antrian pembelian atau secara bergiliran, mengingat bahan baku yang sangat terbatas.
“Kita tidak hanya melayani di Mamolo saja tapi sudah sampai di Nunukan, Sebatik dan Sedadap, banyak yang pesan,” pungkasnya.(*)
Reporter: Darmawan
Editor: Ramli







