Magong, Tradisi Tidung Menyambut Bulan Suci Ramadan

benuanta.co.id, NUNUKAN – Magong, tradisi masyarakat Desa Binusan, Kecamatan Nunukan dalam rangka menyambut bulan suci ramadan setiap tahunnya.  Kata Magong berasal dari bahasa Tidung Sumbol yang artinya bergembira dan bersukaria dalam menyambut bulan suci ramadan.

Koordinator Lembaga Adat Tidung Nunukan, H. Sura’i, mengatakan tradisi ini ditandai dengan tiga simbol, yaitu pembacaan selamatan tolak bala, penyalaan pelita (lampu), dan bebajil (nyalakan leduman).

“Pelita atau lampu terbuat dari bambu yang dinyalakan sepanjang pinggir jalan, dengan tujuan untuk menerangi jalan. Sedangkan bebajil atau dalam bahasa Indonesianya itu adalah leduman yang dimainkan setelah sholat taraweh, tidak boleh dilakukan pada sore, dan bisa juga dilakukan pada saat waktu mendekati sahur,” kata H. Sura’i, kepada benuanta.co.id, Ahad (3/4/2022).

Baca Juga :  Dukungan Penuh Inorga, KORMI Nunukan Nyatakan Siap jadi Tuan Rumah Forda 2026

Lanjut dia, ada juga ngadat sahur atau membangun sahur. Di Desa Binusan tahun ini akan dilaksanakan pawai obor yang akan dilakukan pada saat mendekati hari raya idul Fitri dan terakhir akan dilakukan halal bihalal yang nantinya akan mengundang Bupati Nunukan, dan wakil Bupati beserta jajarannya.

Selain itu, H Sura’i menjelaskan suku Tdalamidung pada dahulunya memang memiliki sejumlah tradisi seperti halnya Iraw. Menurutnya, setelah ajaran Islam masuk barulah tradisi itu dipadukan dengan Islam.

Baca Juga :  DLH Nunukan Maksimalkan Fungsi Ruang Terbuka Hijau

“Islam juga menyambut bulan suci ramadan dengan cara bersalawat, dan membacakan ayat suci Al-Quran, karena orang Tidung ini memadukan Iraw tadi dengan cara Magong, ” jelasnya.

Sama saja dengan ajaran Islam, hanya saja di gabung dengan tradisi gaya leluhur suku Tidung.

Dengan diadakannya Magong menandakan bagi umat Islam untuk melakukan persiapan khusus menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Islam memang sangat menginginkan kaumnya untuk menahan nafsu. Bila nafsu tidak dikendalikan, bisa menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan.

“Selamatan sudah menjadi tradisi di Tidung jauh sebelum agama Islam masuk ke Indonesia. Selamatan Magong juga dibarengi dengan kegiatan doa bersama baik di rumah atau masjid atau musala,” terangnya.

Baca Juga :  DKUKMPP Nunukan dan BPOM Periksa Keamanan Pangan Jelang Lebaran

Ervina, warga Desa Binusan, mengatakan dalam menyambut bulan suci ramadan dia dan keluarganya membuat pelita atau obor yang dipasang di depan rumah dengan tujuan untuk menerangi jalan. Bukan dirinya saja yang membuat pelita namun semua warga, sehingga jalan yang ada di Desa Binusan ini dihiasi dengan lampu obor.

“Sebenernya tradisi seperti itu sudah sejak dahulu dilakukan, namun tahun ini baru terasa dengan adanya Magong ini,” jelasnya. (*)

Reporter: Darmawan

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *