benuanta.co.id, NUNUKAN – 2 RT di Trans SP 5 Desa Sebakis Kelurahan Nunukan Barat, Kecamatan Nunukan yakni RT 28 dan RT 27 masih menjadi wilayah blank spot atau tidak ada sinyal telekomunikasi. Lantaran itulah warga menggunakan ‘penguat’ sinyal agar bisa menangkap jaringan selular agar bisa berkomunikasi.
Warga dengan ide kreatifnya memasang antena tinggi untuk mendapatkan sinyal secara darurat. Budiyana menceritakan, belum adanya jaringan telekomunikasi membuat warga kesulitan berkomunikasi melalui ponsel. Jaringan ini sudah lama tidak ada, hingga saat ini, untuk mendapatkan signal mau tidak mau harus menggunakan antena penguat jaringan.
“Kalau pun ada (sinyal), sinyalnya putus-putus. Makanya kalau mau nelepon harus keluar kampung mencari tempat ketinggian baru bisa dapat sinyal dan juga menggunakan antena penguat jaringan,” kata Budiyana, kepada benuanta.co id, Rabu (15/12/2021).
Apalagi saat ini di tengah laju arus informasi di dunia maya, menjadi sangat ironis ketika melihat warga Sebakis Trans masih kesulitan mengakses informasi hanya gara-gara tidak ada jaringan internet .
Hal itu juga dirasakan oleh Ariani, yang masih duduk di bangku sekolah SMP yang ada di Sebakis Trans.
Mengaku sulit mengikuti kegiatan belajar daring selama pandemi COVID-19, karena tidak ada jaringan internet, dan membuat dirinya dan kawan pergi ditempat yang ada jaringan, seperti di tempat yang tinggi. “Terkadang harus berjalan jauh dari rumah, baru dapat sinyal internet ,”jelasnya
Dia mengaku, sering kali bersama teman-temannya harus mendatangi sebuah pondok di tengah area kebun sawit untuk mendapatkan sinyal internet . “Hanya di tempat tersebut yang bisa mendapatkan sinyal internet untuk belajar daring,” ujarnya.
Namun seiring waktu saat ini sekolah sudah dilakukan dengan tatap muka, dan bisa bertemu dengan teman.
Dia juga berharap kepada pemerintah agar dapat memperhatikan kampung Sebakis Trans ini agar dapat di dibangun tower jaringan telekomunikasi semakin baik ke depannya. (*)
Reporter: Darmawan
Editor: Ramli







