benuanta.co.id, NUNUKAN – Kelangkaan susu UHT di Kabupaten Nunukan dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kondisi ini diduga kuat dipicu meningkatnya permintaan sejak bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah.
Pantauan di lapangan menunjukkan stok susu UHT di berbagai minimarket dan toko kelontong kosong atau sangat terbatas. Jika pun tersedia, jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan tersebut.
Salah satu pelaku UMKM, pemilik usaha kopi di Nunukan, Elha Purnama (34), mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku utama untuk usahanya.
“Biasanya kami beli dalam jumlah cukup untuk beberapa hari, tapi sekarang harus keliling ke banyak tempat dan tetap tidak dapat. Ini sangat mengganggu usaha kami,” ujar Elha pada Senin, (06/04/26).
Hal serupa juga disampaikan Rahmat (40), pemilik usaha minuman kekinian. Ia menyebutkan penurunan omzet mulai dirasakan akibat keterbatasan stok susu UHT.
“Kalau bahan tidak ada, otomatis tidak bisa produksi maksimal. Pelanggan juga kecewa karena menu favorit tidak tersedia,” katanya.
Diduga, lonjakan permintaan terjadi sejak program MBG mulai diterapkan di sekolah-sekolah, di mana susu UHT menjadi salah satu menu utama bagi siswa. Kebutuhan dalam jumlah besar tersebut membuat distribusi ke pasar umum menjadi terbatas dan harga cenderung naik di pasaran.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior R. Frames, menyatakan tengah melakukan koordinasi dengan distributor untuk menambah pasokan ke wilayah Nunukan. Pemerintah juga berupaya mengatur distribusi agar kebutuhan masyarakat umum dan pelaku usaha tetap terpenuhi.
“Kami memahami keresahan pelaku UMKM. Saat ini kami mendorong distributor untuk menambah suplai dan memastikan distribusi lebih merata,” ungkap Dior.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian dalam jumlah berlebihan yang dapat memperparah kelangkaan di pasaran.
Para pelaku UMKM berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret agar pasokan kembali normal. Mereka khawatir jika kondisi ini berlarut-larut, akan berdampak pada keberlangsungan usaha kecil di Nunukan.
Dengan meningkatnya kebutuhan akibat program MBG, keseimbangan distribusi menjadi tantangan yang harus segera diatasi agar tidak merugikan berbagai pihak, khususnya pelaku UMKM lokal. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Ramli







