Kemarau Diprediksi Selesai, Nunukan Masuki Masa Peralihan Musim

benunata.co.id, NUNUKAN – Puncak musim kemarau di Kabupaten Nunukan dipastikan telah terlewati. Kondisi cuaca saat ini mulai berangsur berubah menuju fase yang lebih basah, sebagaimana disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan.

Kepala BMKG Nunukan, William Sinaga, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi, cuaca dalam sepekan terakhir didominasi kondisi cerah. Meski demikian, hujan masih terjadi dengan intensitas yang relatif rendah.

“Dalam satu minggu terakhir cuacanya cenderung cerah, hujan hanya terjadi dengan intensitas sangat ringan, sekitar 0,2 milimeter,” ujar Wiliam pada Kamis (02/04/26).

Rabu pagi, hujan dengan intensitas cukup lebat sempat mengguyur sejumlah wilayah. Kondisi ini dinilai memberikan dampak positif, khususnya terhadap ketersediaan air.

“Pagi kemaren sempat terjadi hujan lebat, alhamdulillah ini cukup membantu menambah ketersediaan air,” ungkapnya.

Secara klimatologis, wilayah Kabupaten Nunukan terbagi dalam tiga zona musim, yakni zona Nunukan, Sebatik, serta wilayah yang cenderung basah sepanjang tahun yang dikenal sebagai wilayah IV.

“Wilayah IV meliputi Sebuku, Sembakung, Lumbis, hingga Krayan. Daerah-daerah ini hampir sepanjang tahun berada pada kategori musim hujan, sehingga tidak mengalami kemarau seperti wilayah Nunukan dan Sebatik,” jelas William.

Berdasarkan data klimatologi selama 30 tahun terakhir, musim kemarau di wilayah Nunukan dan Sebatik umumnya berlangsung pada Februari hingga Maret. Namun, pada tahun 2026, pola tersebut mengalami pergeseran dengan durasi yang lebih panjang.

“Secara normal Februari sampai Maret, tetapi tahun ini kemarau berlangsung hingga dasarian kedua April,” ungkapnya.

Meski demikian, BMKG memastikan bahwa puncak musim kemarau telah terjadi pada Maret dan kini telah terlewati. Saat ini, Nunukan mulai memasuki masa peralihan menuju peningkatan curah hujan.

“Puncaknya sudah terjadi di bulan Maret. Sekarang kita sudah memasuki masa transisi menuju musim hujan,” tegasnya.

William juga menjelaskan bahwa hujan tetap dapat terjadi selama periode kemarau, namun dengan akumulasi yang rendah. Suatu wilayah dikategorikan kering apabila curah hujan berada di bawah 50 milimeter dalam kurun waktu 10 hari.

“Masih ada hujan, tetapi jumlahnya kecil. Jika di bawah 50 milimeter per 10 hari, itu masuk kategori kering,” jelasnya.

BMKG juga mengingatkan bahwa perbedaan kondisi cuaca antarwilayah di Kabupaten Nunukan merupakan hal yang wajar, mengingat karakteristik geografis dan zona musim yang berbeda.

“Bisa saja di satu wilayah hujan, sementara wilayah lain tidak. Itu kondisi yang normal di daerah kita,” tambahnya.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk rutin memantau informasi prakiraan cuaca sebelum beraktivitas. Informasi tersebut dapat diakses melalui aplikasi Info BMKG yang tersedia di Play Store.

Dengan berakhirnya puncak musim kemarau, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, sekaligus mulai bersiap menghadapi kondisi yang perlahan menjadi lebih basah di wilayah Nunukan dan sekitarnya. (*)

Reporter: Soni Irnada

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *