Biaya Distribusi Bahan Pokok ke Nunukan Tinggi, Pemkab Dorong Produksi Pangan Lokal dan Kampung Hortikultura

benuanta.co.id, NUNUKAN– Di tengah upaya menjaga ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat, Kabupaten Nunukan masih menghadapi tantangan dalam distribusi pangan, khususnya ke wilayah perbatasan.

Tingginya biaya logistik menjadi penghambat pasokan dari luar daerah belum bisa optimal.

Perum Bulog mencatat, distribusi bahan pokok ke Nunukan masih relatif terbatas. Pada Januari 2026, penyaluran beras SPHP hanya sekitar 6 ton, sementara pada Februari tidak ada distribusi.

Lalu pada pertengahan Maret, kembali disalurkan sekitar 9 ton beras dan 6 ribu liter minyak goreng.

“Penyaluran ke Nunukan memang masih kecil karena terkendala biaya distribusi yang cukup tinggi,” ujar Kepala Cabang Bulog Tarakan, Zamahsyari Afsolin.

Diakuinya, Bulog Tarakan aktif memastikan stabilitas harga pokok, terutama minyak goreng, serta memantau . Meski demikian, Bulog memastikan stok bahan pokok dalam kondisi aman, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.

Baca Juga :  Pemkab Nunukan Pastikan Stok Pangan dan BBM Aman Jelang Lebaran

Saat ini, cadangan beras di gudang mencapai sekitar 1.400 ton, minyak goreng 55 ribu liter, dan gula sekitar 2 ton. Bahkan, tambahan pasokan gula sebanyak 25 ton telah disiapkan untuk masuk setelah Lebaran.

Dengan kondisi tersebut, ketersediaan beras diperkirakan masih mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga enam bulan ke depan. Masyarakat pun diimbau untuk berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan.

“Belanja sesuai kebutuhan, tidak perlu panic buying. Stok Bulog, terutama beras, masih aman,” tegasnya.

Baca Juga :  Puncak Arus Mudik Nunukan Alami Penurunan dari Tahun Lalu

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Nunukan terus mendorong langkah jangka panjang dengan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Nunukan, Masniadi, mengungkapkan selama ini sejumlah kebutuhan pokok masih didatangkan dari luar yakni Sulawesi, Jawa, dan Malaysia.

“Kalau jalur distribusi terganggu, tentu ini akan menjadi persoalan. Karena itu kita perlu mendorong produksi pangan lokal secara lebih besar,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa komoditas seperti cabai, tomat, ikan, dan daging ayam juga kerap mempengaruhi inflasi daerah, sehingga perlu intervensi yang terarah.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengembangan program kampung hortikultura, dengan menetapkan wilayah tertentu sebagai sentra produksi komoditas seperti cabai dan tomat.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Listrik, Satu Rumah di Sebatik Timur Ludes Terbakar

“Kita akan mulai dengan pendataan petani dan kelompok tani, kemudian diberikan intervensi sesuai kebutuhan, seperti benih, pupuk, dan sarana produksi lainnya,” jelasnya.

Masniadi menambahkan, wilayah Simpang Kadir Kelurahan Nunukan Selatan menjadi salah satu lokasi yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Tahun ini difokuskan pada perencanaan dan pendataan. Sementara intervensi lebih maksimal akan dilakukan pada tahun berikutnya.

Melalui kombinasi antara penguatan pasokan dan peningkatan produksi lokal, diharapkan ketahanan pangan di Kabupaten Nunukan semakin kuat, sekaligus mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *