benuanta.co.id, NUNUKAN– Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nunukan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin menggelar ekspose laporan akhir penyusunan profil keanekaragaman hayati Kabupaten Nunukan.
Dokumen ini disusun dengan empat tujuan utama, yakni menyediakan informasi lengkap mengenai status keanekaragaman hayati Nunukan, mengidentifikasi dan mendokumentasikan flora, fauna, serta ekosistem, menjadi acuan kebijakan konservasi, dan memberikan rekomendasi mitigasi atas potensi ancaman lingkungan.
Dokumen ini diharapkan menjadi acuan penting dalam menjaga sekaligus mengelola kekayaan alam di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia tersebut.
Dalam pemaparannya, tim penyusun menegaskan keanekaragaman hayati Nunukan adalah aset berharga yang tidak hanya menopang ekosistem lokal, tetapi juga menyangkut kesejahteraan masyarakat.
“Profil ini bukan hanya dokumentasi ilmiah, melainkan panduan dasar bagi pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dalam menyusun kebijakan serta strategi pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan,” jelas Hasanuddin dalam paparannya
Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.247,50 km² dengan 21 kecamatan dan 242 desa. Sebanyak 15 kecamatan berada langsung di garis perbatasan dengan Malaysia. Posisi strategis ini membuat Nunukan kaya akan ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, pegunungan, mangrove, lahan gambut, hingga sawah tradisional di Krayan.
Namun, ia juga mengungkapkan ancaman serius terhadap kelestarian hayati. Di antaranya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, eksploitasi pertambangan, serta tekanan pembangunan infrastruktur.
Fenomena perubahan iklim turut memperburuk kondisi ekosistem dengan memengaruhi curah hujan, kelembaban, dan bentang alam. “Nunukan menghadapi dilema. Di satu sisi kekayaan hayatinya luar biasa, tetapi di sisi lain tekanan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam bisa menjadi ancaman besar,” ungkapnya
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Nunukan 2025 mencatat jumlah penduduk mencapai 227.460 jiwa. Mayoritas masyarakat bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, meski kontribusi terbesar PDRB justru berasal dari pertambangan.
Sektor pertambangan tercatat menyumbang lebih dari 51 persen PDRB Nunukan tahun 2024, disusul pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 19,93 persen. Kondisi ini menimbulkan tantangan serius, karena ketergantungan pada eksploitasi sumber daya alam berpotensi mempercepat degradasi lingkungan.
Kepala DLH Nunukan dr. Meinstar Tololiu menegaskan profil KEHATI ini bukan sekadar laporan teknis, melainkan instrumen pembangunan berkelanjutan.
“Dengan adanya dokumen ini, kita ingin memastikan pembangunan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian alam. Kita punya tanggung jawab untuk mewariskan kekayaan hayati ini kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Selain pemerintah, masyarakat juga diharapkan terlibat aktif. Dari pemanfaatan lahan yang bijak, pelestarian hutan adat, hingga penguatan kearifan lokal yang sudah lama menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Dengan profil KEHATI, Kabupaten Nunukan meneguhkan posisinya sebagai daerah strategis yang berkomitmen pada konservasi. Tantangan besar memang menanti, namun dengan data, strategi, dan partisipasi bersama, kekayaan hayati perbatasan ini dapat tetap lestari sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







