benuanta.co.id, NUNUKAN – Layanan kelistrikan di wilayah dataran tinggi Krayan belum seratus persen dapat menikmati masyarakat.
Ketua Komisi II DPRD Nunukan, Welson mengatakan selama ini sebagian masyarakat di Krayan hanya mengandalkan mesin genset sebagai penerangan. Kemudian sebagiannya mengandalkan lampu solar cell yang merupakan bantuan pemerintah.
“Yang teraliri listrik PLN itu hanya 50 persen saja. Sisanya nggak ada. Pemasangan listrik PLN itu pun baru saja terjadi. Bahkan tidak menyala selama 24 jam. Kalau Krayan Induk itu memang siang malam menyala tapi kalau trouble mesinnya padam juga,” jelas Welson.
Untuk penggunaan mesin genset, kata dia, masyarakat juga harus lebih hemat. Karena biaya BBM untuk genset terbilang mahal.
“Jadi masyarakat gunakan seperlunya saja, misal saya kalau pulang, saat makan saya hidupkan selesai makan saya matikan. Jadi seperlunya saja,” bebernya.
Terlepas dari itu, dalam hearing tersebut, dia menyinggung sebanyak 6 desa di Krayan yang hingga tahun ini belum ada listrik masuk. Padahal dari janji PLN tahun ini akan menyala.
“Tapi sampai detik ini tidak ada satu tiang pun terpasang. Katanya masih koordinasi ke pusat. Nah, informasinya itu, material sulit dibawa masuk. Jadi mereka gunakan jalur Serawak, Malaysia baru tembus Krayan,” jelasnya.
Hal itu diambil PLN, kata dia, jika menggunakan pesawat maka ongkos pesawat terlalu mahal. Sehingga, tidak ada kontraktor yang mau mengambil risiko kemahalan. “Tapi informasinya dari PLN tahun ini juga akan tetap dipasang. Mudah-mudahan lah untuk enam desa ini,” ungkapnya.
Enam desa itu di antaranya, Desa Pa’ Inan, Beduk Kubul, Long Padi, Long Mangan, Long Puak dan Pa Mulak.
“Bahkan ada beberapa desa lainnya yang belum ada penerangan apa pun. Kasihan mereka, genset pun tak punya. Ada yang gunakan tenaga tata surya tapi kan tak bertahan lama. Satu atau rusak dua tahun sudah rusak. Itu banyak yang rusak di Krayan,” sebutnya.
Untuk itu, dia meminta masyarakat di Nunukan dan Sebatik lebih bersyukur dengan kondisi listrik dan masih diupayakan PLN agar tetap normal. Sebab, mati lampu hanya terjadi beberapa jam saja. “Kalau di sana (6 desa tersebut) tidak pernah hidup,” pungkasnya.(*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Ramli







