benuanta.co.id, MALINAU – Eksistensi pedagang di Pasar Induk Kabupaten Malinau, perlahan menujukkan penurunan akibat pandemi Covid-19 hingga kebijakan PPKM yang terus berlanjut.
Hal tersebut kini dirasakan Sapri dan Salomah, pasangan suami istri (pasturi) yang juga pedagang di Pasar Induk Malinau kini mengaku mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi. Bahkan, pasturi ini mengaku terpaksa menjual sebagian besar aset yang mereka miliki dari hasil berdagang bertahun-tahun lamanya demi mempertahankan usahanya.
“Sebelum pandemi ini kita bisa mendapatkan untung bersih hingga Rp 2 juta. Tapi semenjak pandemi, pendapatan kotor kita turun hingga dibawah Rp 300 ribu perhari,” kata Salomah, Sabtu (7/8/2021).
“Kita bahkan sampai menjual mobil, rumah bahkan berhutang ke bank dan koperasi untuk mempertahankan usaha ini,” tambahnya.
Mirisnya lagi, meski telah kehilangan sebagian hartanya dan berhutang. Nyatanya keadaan itu tak mengubah apapun. Pasalnya, isi toko yang dulunya dipenuhi barang dagangan kini malah semakin menipis. Lantaran kurangnya daya beli masyarakat, yang juga mengakibatkan kurangnya pemasukan bagi para pedagang.
“Selama pandemi masih ada, keadaan juga pasti tidak akan berubah dan seterusnya pasti akan seperti ini,” imbuhnya.
Pasturi ini sangat berharap, adanya bantuan dari pemerintah maupun pihak lainnya dalam membantu permodalan pedagang agar tetap bisa eksis menjalankan usaha di tengah pandemi Covid-19.
“Dari awal pandemi hingga saat ini bantuan seperti itu belum pernah ada untuk kita. Tapi kita tidak tahu dengan pedagang lainnya. Tapi jika bantuan ada seharusnya semua pedagang dapat. Makanya kita di sini sangat berharap bantuan permodalan dan semacamnya itu ada buat kita para pedagang,” pungkasnya.(*)
Reporter : Osarade
Editor : Yogi Wibawa/Ramli







