MALINAU – Kepala Adat Besar Sungai Malinau, Drs. Jhonny Laing Impang yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) akhirnya turut bersuara, terkait perkembangan isu mengenai jebolnya tanggul limbah perusahaan PT. KPUC, yang terjadi di sungai Malinau beberapa waktu lalu.
Menurut pria yang akrab disapa Jhonny itu, ia memberi apresiasi kepada Gubernur Kaltara yang langsung mengambil langkah dan sangat peduli dengan pencemaran sungai malinau yang diakibatkan banyaknya ikan yang mati sepanjang sungai Malinau.
“Salah satunya menaburkan kembali benih ikan beberapa waktu yang lalu di Sungai Malinau. Hal itu patut kita apresiasi kepada pemerintah provinsi,” kata Jhonny.
Namun ia juga menambahkan, kedepan perlu ada pengkajian secara menyeluruh dan mendalam melalui para ahli yang benar-benar ahli di bidang tersebut, terkait pengaruh adanya penambangan terhadap kelastarian lingkungan dan alam, serta efeknya terhadap masyarakat di sekitar.
“Agar hasil kajian ini dapat membuat rekomendadi apa yang telah dan akan dilakukan selanjutnya. Sehingga kedepan dapat mengatasi berhagai hal yang akan timbul, baik sekarang maupun yang akan datang. Sesuai aturan amdal yang berlaku,” ujarnya.
Jhonny sendiri mengaku sangat mengetahui kondisi tentang Sungai Malinau, lantaran ia tumbuh besar di daerah itu. “Memang sebelum adanya penambangan Sungai Malinau itu sangat jernih, terkecuali banjir, sesaat airnya keruh, selang 3 hari sungainya udah jernih kembali,” ungkapnya.
“ Tapi sekarang hampir tidak ada kita melihat sungai Malinau jernih seperti dulu, khususnya di daerah aliran sungai di bawah penambangan. Bahkan setiap hari kita meliat sungai Malinau kotor dan keruh, walaupun di musim kemarau atau sungai kecil tetap kotor dan keruh,” pungkasnya.
Sehingga ia pun berharap melalui kajian yang dalam nantinya, ada upaya yang dilakukan ke depan agar aliran sungai Malinau setidaknya mendekati keasrian seperti sungai Malinau yang dulu. “Artinya kalau hujan dan banjir saja kotor atau keruh, kalau waktu kemarau air kecil airnya bisa jernih,” tuturnya.
Namun terkait dengan persoalan ini, Jhonny menambahkan bahwa pihaknya hanya ingin semua elemen fokus untuk mengatasi aliran sungai Malinau, agar kedepan tidak seperti sekarang kotor dan keruh.
“Penambangan tetap dapat berjalan serta sesuai aturan amdal yang berlaku. Serta tidak mempunyai efek terhadap alam, lingkungan bahkan kehidupan masyarakat di sekitar sungai Malinau. Namun yang saya sangat sayangkan ialah akhir-akhir ini isu berkembang macam-macam, bahkan dikaitkan ke masalah agama. Maunya kita sebagai masyarakat sini, ini murni tentang masalah sungai Malinau,” tutupnya.(*)
Reporter : Osarade
Redaktur: M. Yanudin







