benuanta.co.id, TARAKAN – Belum pulih dari pandemi virus Covid-19, Indonesia dihadapkan kembali dengan penyakit Hepatitis akut yang merenggut nyawa 5 anak di berbagai daerah.
Lima kasus tersebut terdiri dari 3 kasus di DKI Jakarta, 1 kasus di Tulungagung, Jawa Timur, dan teranyar 1 kasus di Solok, Sumatera Barat.
Hal ini turut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang bisa saja penyakit ini menyerang secara tiba-tiba.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalimantan Utara, Agust Suwandy memaparkan kendati belum menemukan penyakit ini pihaknya telah mengirimkan surat kepada Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk melakukan pemantauan dan pengamatan jika ditemukan adanya tanda-tanda yang mengarah pada hepatitis akut.
“Kita punya sistem informasi untuk pelaporan kasus-kasus yang berpotensi kejadian luar biasa (KLB), namanya sistem kewaspadaan dini dan respon (SKDR), jadi ada alur-alur pelaporannya,” kata Agust Suwandy, Rabu (11/5/2022).
Adapun kasus yang berpotensi KLB di antaranya campak, keracunan, polio termasuk hepatitis dapat langsung dilaporkan. Melalui sistem SKDR ini pun seluruh laporan yang diterima akan langsung terhubung dengan pusat.
“Misalnya, adanya satu anak yang dicurigai menderita hepatitis akut, maka akan dilaporkan ke sistem SKDR kemudian dalam waktu maksimal 3×24 jam akan dilakukan penyelidikan oleh tim teknis yang dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan maupun fasilitas kesehatan setempat,” urai Agus.
Dinas Kesehatan Provinsi Kaltara juga akan melakukan pengambilan sampel untuk diperiksa di laboratorium. Jika sampel yang diuji mengarah ke arah yang lebih kuat, maka pihaknya akan melanjutkan uji sampel ke laboratorium yang telah ditunjuk oleh Kemenkes.
Agus menjelaskan terdapat beberapa jenis hepatitis, yakni akut dan kronis. Biasanya, hepatitis akut bersifat ringan dan menjadi kasus biasa.
“Ini menjadi kecurigaan kenapa kok bisa jadi kasus kematian, padahal selama ini hepatitis akut itu biasa saja. Karena biasa sembuh sendiri dan hanya kasus ringan,” jelasnya.
“Beda dengan hepatitis kronis yang penularannya lewat darah dan hubungan seksual sehingga pengobatannya dalam jangka waktu lama. Makanya ini yang kami waspadai,” tandasnya.
Terpisah, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Utara, dr. Franky Sientoro, Sp.A menjabarkan pada dasarnya hepatitis akut dapat menyerang anak usia sampai dengan 16 tahun. Hepatitis merupakan infeksi peradangan di sel hepar atau yang biasa dikenal dengan liver.
“Penularannya masih diselidiki, sempat dikira berkaitan dengan vaksin, tapi kesimpulan dari WHO menegaskan bahwa ini tidak berkaitan dengan vaksin, apakah berkaitan dengan covid-19 ya bisa ya bisa tidak,” ujar Franky Sientoro.
Adapun gejala hepatitis yakni gejala pada saluran cerna yang membuat anak menjadi demam, radang, muntah, diare, mencret hingga kejang. Jika menemukan kasus tersebut pihaknya akan melakukan pemeriksaan pada gangguan fungsi liver anak.
Franky melanjutkan, penularan hepatitis akut juga dapat terjadi saat makan, sehingga kebersihan makanan dan sanitasi diri menjadi hal penting untuk diperhatikan.
“Untuk beberapa saat ini yang senang makan lalapan ya dimasaklah,” jelasnya.
Pihaknya juga terus melakukan monitoring akan kasus hepatitis akut di Kaltara. Menurutnya IDAI juga belum merekomendasikan anak yang bersekolah untuk belajar di rumah dikarenakan penularan hepatitis akut yang tidak seagresif Covid-19.
“Status hepatitis akut juga bukan pandemi. Ya harus dijaga saja kebersihannya, penyebab hepatitis akut belum diketahui, obatnya juga belum,” tutupnya.
Terpisah, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes mengaku pemerintah terlalu fokus ke penanganan Covid 19 sehingga melupakan beberapa penyakit yang harus diimunisasi rutin lengkap untuk menjamin anak-anak terhindar dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (P3DI) seperti campak, rubella, polio, dan hepatitis.
“Bukan kita yang nggak mau, tapi vaksin yang tidak ada. Karenakan itu vaksin dropping dari pusat, bahannya dari pusat. Terlebih lagi posyandu tutup semua karena takut penyebaran Covid-19,” imbuh Khairul.
Menurutnya terdapat dua jenis penyakit Hepatitis, yaitu Hepatitis A dan Hepatitis B. Hepatitis A dapat ditularkan langsung melakui makanan, sedangkan Hepatitis B penularannya melalui darah.
“Kalau darah dari ibunya, kenapa ada jangka gold period 1 sampai 7 hari karena gold period di situ. Ada carier ari ibunya ya gitu jadi sepekan itu harus diimunisasi. Pencegahannya ya dengan imunisasi. Kita sudah warning dari awal sudah ingatkan dari dinasnya, kalau vaksin juga bukan dari kita tapi dari pusat,” katanya.
Jika semakin lama dibiarkan dan tidak diimunisasi maka bisa kembali terjadi re-emergency deseas. Hal ini terjadi karena penyakit P3DI tidak diberikan imunisasi rutin secara lengkap.
“Prediksi bukan hanya Hepatitis, tapi Tetanus, Campak juga karena 2 tahun kita absen (imunisasi), karena semua fokus ke Covid,” pungkasnya. (*)
Reporter : Endah Agustina
Editor : Yogi Wibawa







