benuanta.co.id, BULUNGAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) melaksanakan konsultasi publik tentang penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana Provinsi Kaltara tahun 2022-2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltara, Robby Yaris Hatman mengatakan penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana ditargetkan tuntas di tahun ini.
Prosesnya sendiri telah dimulai sejak bulan April 2022 berupa asistensi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kerangka kerja penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana Provinsi Kaltara.
Kemudian ada pertemuan BNPB dengan Gubernur Kaltara, setelah itu ada lokakarya penanggulangan bencana.
“Setelah ini dokumen akan dirapikan dan kami lakukan konsultasi akhir dengan BNPB, nantinya akan melibatkan Bappenas dan Kemendagri jadwalnya antara 21 dan 28 November 2022,” ucapnya kepada benuanta.co.id, Jumat 11 November 2022.
Kata dia, setelah dilakukan asistensi ketiga di Jakarta maka diharapkan dokumen kajian resiko bencana ini rampung. Di mana nantinya dapat disetujui oleh BNPB tapi bisa juga dokumen tersebut disetujui dengan surat keputusan Gubernur.
“Bisa juga dengan surat keputusan Gubernur supaya ada Legal Formal,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kaltara Andi Amriampa menyebutkan untuk resiko bencana di Kaltara ada 12 kerawanan yang telah terdata hasil pemetaan BNPB dengan klasifikasi resiko bencana yang tinggi, sedang dan rendah.
“Ada 12 resiko bencana yaitu banjir, banjir bandang, Covid-19, cuaca ekstrim, epidemi wabah penyakit, gelombang ekstrim, gempa bumi, Karhutla, kegagalan teknologi, kekeringan, tanah longsor dan tsunami. Inilah hasil kajian resiko bencana dari BNPB tahun 2021,” sebutnya.
Dari 12 resiko bencana itu terbagi lagi dalam kelas yakni kelas bahaya, kerentanan dan kapasitas serta resiko. Kata dia, dari 12 resiko bencana ini, paling banyak terjadi adalah Karhutla lalu disusul banjir.
“Paling sering adalah Karhutla, itu kerap terjadi di Bulungan di daerah Tanjung Palas Timur lalu di Nunukan. Ini dilihat dari frekuensi sebenarnya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: Yogi Wibawa







