benuanta.co.id, TARAKAN – Keanekaragaman budaya dan keunikan dari seluruh suku dayak di Kalimantan Utara (Kaltara), telah disatukan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Ke-1 Pemuda Dayak Kaltara pada Jumat, 29 hingga 30 Juli 2022 lalu.
Mubes perdana yang diselenggarakan di Tanjung Selor tersebut, berhasil mengumpulkan puluhan ribu pemuda dayak dari setiap wilayah di Kaltara. Beragam jenis suku dayak meramaikan kegiatan tersebut dengan menggunakan pakaian (kostum) adat dengan keunikannya masing-masing.
Namun siapa sangka, dari ribuan pemuda yang mengenakan busana adat dayak, kostum adat dayak terbaik diraih oleh Gerby Mayun, seorang pemuda asal Kota Tarakan.
Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Rombongan Pemuda Dayak Kaltara Kota Tarakan, Ardans Roben, S.H.
“Dari rombongan kita (Kota Tarakan), Gerby dipilih sebagai pemenang kostum adat dayak terbaik pada Mubes Pemuda Dayak Kaltara,” kata Ardans pada Senin, 1 Agustus 2022.
Untuk diketahui, dalam mengikuti mubes di Tanjung Selor, rombongan Kota Tarakan mengerahkan total 100 orang dan memakan anggaran hingga Rp 30 juta.

“Selaku ketua rombongan, saya berterimakasih kepada pak Juanda Lesmana, Norhayati Andris, Tokoh Adat Dayak Lundayeh, Kenya, Punan, Agabak dan seluruh warga Dayak Kota Tarakan yang sudah mendukung rombongan kami,” sebutnya.

Pemenang Kostum Adat Dayak Terbaik
Terpisah, Gerby Mayun, pemuda dayak asal Kota Tarakan ini mengaku tidak menyangka bisa memenangkan kostum adat dayak terbaik pada Mubes ke-1 Pemuda Dayak Kaltara tersebut.
“Tujuan awal sebenarnya cuma ingin mensukseskan mubes Pemuda Dayak Kaltara saja,” ujar Gerby.
Dijelaskan Gerby, baju adat khas Dayak Lundayeh tersebut merupakan pesanannya ke keluarganya, cawat yang terbuat dari kulit kayu bertujuan untuk melestarikan budaya nenek moyang.
Dari bagian kepala terdapat kepala dan bulu burung anggang beserta topi rotan, kemudian di bagian punggung terdapat tas yang dimodifikasi sendiri menggunakan tempurung kura-kura.
Lanjutnya, terdapat juga aksesoris seperti tengkorak monyet dan macan kumbang hingga mandau yang menjadi ciri khas senjata asal Kalimantan tersebut.
Selain itu, Gerby juga mengaku bahwa dirinya yang memodifikasi dan membuat baju adatnya sendiri, sehingga bisa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat kostum tersebut.
“Kalau untuk pembuatan aksesoris itu lama, soalnya kita kumpul bahan dulu. Setelah bahan terkumpul, baru bisa dirakit satu persatu. pembuatan full bisa 2 minggu lah, kumpul bahannya yang lama,” sebutnya.
Untuk diketahui, selain baju adat rombongan Pemuda Dayak Kaltara Kota Tarakan juga menyumbangkan penampilan tarian dari Sanggar Tari Dayak Lundayeh Rasat Eco dan Kancet Lasan Punan Leto. (*)
Editor: Matthew Gregori Nusa







