TANJUNG SELOR – Polemik di tubuh Partai Demokrat dengan munculnya Kongres Luar Biasa (KLB) membuat kisruh situasi politik di Tanah Air. Hawa panas ini bermula seiring terpilihnya Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara beberapa waktu lalu. Namun kader Partai Demokrat kubu AHY dengan tegas tak mengakui sekaligus menyatakan hasil KLB versi Deli Serdang abal-abal.
Tak sedikit manuver agresif Moeldoko untuk merebut Demokrat ini dianggap tak pantas dengan kedudukannya sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) yang mencoreng citra Presiden Jokowi di mata publik. Berbagai pihak juga mendesak agar Moeldoko turun dari jabatannya.
“Kami tidak berkepentingan untuk menyuruh Moeldoko turun (lepas jabatan KSP). Tapi kan secara moral Moeldoko paham pada fungsi dia sebagai orang pemerintah harus sadar bahwa dia harus menjaga keamanan, ketertiban, dan kondusifitas negara,” ujar Wakil Ketua Umum (Waketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. Yansen TP M.Si kepada benuanta.co.id, Rabu (17/3/2021).
Menurut Yansen TP, seharusnya Moeldoko yang pernah menjadi Panglima TNI tahun 2013-2015 paham membedakan kapasitasnya sebagai pribadi dengan jabatannya saat ini menjadi KSP. “Kalau dia sebagai orang pribadi silahkan saja semaunya, tetapi sebagai orang pemerintah harus tahu kondisi yang diciptakan adalah kondisi yang merusak banyak situasi,” terangnya.
Sejatinya partai berlogo mercy ini juga tak setuju tindakan Moeldoko yang telah membuat kisruh tersebut. “Harapannya dia bisa membawa kondusifitas, keamanan negara. Apalagi dia seorang Kepala Staf Kepresidenan malah memberikan sikap seperti ini. Untungnya kami (Demokrat AHY) mengambil sikap menegakan hukum, bukan anarkis. Sebenarnya banyak pihak yang meminta kita membuat gerakan, tetapi kita berfikir itu tidak sehat. Kalau orang yang berbudaya dengan politik harus sadar ini permainan politik, jadi kita hadapi dengan politik yang benar. Jadi saya kira kita berpolitik dewasalah,” tandasnya.(*)
Reporter : Yogi Wibawa
Editor: M. Yanudin







