Kredit UMKM Kaltara Menyusut, NPL Tembus 7,12 Persen

benuanta.co.id, TARAKAN – Pertumbuhan kredit perbankan di Kalimantan Utara (Kaltara) yang mencapai 54,12 persen pada Agustus 2026 ternyata belum dirasakan merata oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Agus Taufik, mencatat penyaluran kredit UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 1,46 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Total kredit UMKM yang masih berjalan atau outstanding pada Agustus 2026 tercatat Rp5,47 triliun.

Baca Juga :  Gelar FGD Bareng BRIN, Sekprov Kaltara Dorong Model Otonomi Khusus Wilayah Perbatasan

“Dari sisi pangsa, kredit UMKM mencapai 11,91 persen, sedikit meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 11,74 persen,” ujarnya.

Namun, peningkatan pangsa tersebut tidak diikuti pertumbuhan nominal kredit. Secara tahunan, penyaluran kredit UMKM masih mengalami kontraksi.

Persoalan lain terlihat dari kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) UMKM tercatat sebesar 7,12 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan ambang batas NPL sebesar 5 persen.

Baca Juga :  Jalan Gajah Mada Rusak dan Tergenang, Akademisi Soroti Drainase hingga Struktur Jalan

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kualitas kredit perbankan secara keseluruhan di Kaltara. Pada periode yang sama, NPL bruto perbankan hanya tercatat 0,70 persen.

Di sisi lain, kredit perbankan Kaltara secara keseluruhan justru tumbuh kuat sebesar 54,12 persen (yoy).
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit modal kerja tumbuh 43,43 persen, kredit investasi melonjak 86,75 persen, dan kredit konsumsi tumbuh 3,66 persen.

Dari sisi sektor ekonomi, industri pengolahan menjadi penerima kredit terbesar dengan pangsa 44 persen dan pertumbuhan mencapai 153,28 persen (yoy).

Baca Juga :  Pemprov Kaltara Percepat Manajemen Talenta ASN, Karier Pegawai Bakal Lebih Transparan

Data tersebut menunjukkan pertumbuhan pembiayaan perbankan di Kaltara masih lebih kuat pada sektor tertentu, sementara pembiayaan UMKM menghadapi tekanan baik dari sisi pertumbuhan maupun kualitas kredit.

“Kondisi ini menjadi perhatian karena UMKM memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat dan penyerapan tenaga kerja di daerah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina