benuanta.co.id, BULUNGAN – Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Utara (Kaltara) pada September 2026 tercatat sebesar 117,34 atau turun 0,06 persen dibandingkan Agustus 2026. Penurunan ini terjadi ketika harga yang diterima petani melemah, sementara indeks harga yang dibayar petani justru mengalami kenaikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara Mustaqim, menjelaskan bahwa pergerakan NTP dipengaruhi oleh perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Kaltara indeks harga yang diterima petani (It) pada September 2026 turun 0,02 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) meningkat 0,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Perubahan tersebut membuat NTP Kaltara mengalami penurunan tipis pada September 2026,” uajrnya, Jumat (9/10/2026).
NTP merupakan indikator yang digunakan untuk melihat daya tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani maupun kebutuhan produksi pertanian. Secara umum, NTP di atas 100 menunjukkan indeks harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar pada periode dasar penghitungan.
“Meski secara keseluruhan mengalami penurunan, perkembangan NTP di Kaltara menunjukkan perbedaan antarsektor pertanian. Subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat NTP tertinggi, yakni 203,05,” kelasnya.
Sementara itu, NTP tanaman pangan tercatat sebesar 101,95, hortikultura 104,99, peternakan 101,48, serta subsektor nelayan dan pembudidaya ikan sebesar 102,11. Perbedaan tersebut menunjukkan kondisi daya tukar yang tercermin dalam NTP tidak sama pada setiap subsektor. Karena itu, perkembangan harga hasil produksi dan biaya yang dikeluarkan perlu dilihat berdasarkan karakteristik masing-masing sektor.
Selain NTP, BPS Kaltara juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada September 2026 sebesar 120,12. Angka tersebut turun 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
NTUP menjadi salah satu indikator untuk melihat daya tukar usaha pertanian dengan memperhitungkan harga yang diterima petani dan biaya produksi serta penambahan barang modal.
Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Kaltara pada September 2026 cenderung stabil. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,10 persen.
Perkembangan indikator tersebut menjadi gambaran kondisi ekonomi rumah tangga petani di Kaltara, terutama terkait pergerakan harga hasil pertanian dan pengeluaran yang harus dipenuhi. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina







