Hari Keenam Pencarian ABK SB Habibi di Sungai Sesayap

benuanta.co.id, TARAKAN – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap seorang anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan jatuh dari Speed Habibi di Sungai Sesayap, Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, telah memasuki hari keenam. Hingga Selasa, 24 Maret 2026, korban masih belum ditemukan dan pencarian terus dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Kepala Kantor SAR Tarakan, Syahril, S.E., mengungkapkan operasi SAR hari keenam tetap dilaksanakan sesuai rencana dengan mengedepankan koordinasi antarunsur di lapangan. Ia menegaskan bahwa seluruh tim masih fokus melakukan pencarian secara maksimal.

“Memasuki hari keenam, tim SAR gabungan terus melaksanakan pencarian sesuai rencana operasi yang telah ditetapkan,” ungkapnya, Selasa (24/3/2026).

Syahril menjelaskan informasi awal kejadian diterima Kantor SAR Tarakan dari Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tana Tidung pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 18.40 WITA. Laporan tersebut berasal dari saksi di lapangan yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.

“Kami menerima laporan dari BPBD terkait adanya korban jatuh dari speed di Sungai Sesayap dan langsung kami respons dengan operasi SAR,” jelasnya.

Baca Juga :  Satu Korban Long Boat Tenggelam Ditemukan Meninggal Dunia

Berdasarkan kronologi kejadian, insiden terjadi pada Kamis sore sekitar pukul 16.35 WITA saat Speed Habibi yang melayani rute Tarakan–Tana Tidung melintas di Sungai Sesayap. Korban yang merupakan ABK dilaporkan terjatuh ke sungai setelah speed dihantam arus yang cukup kuat. Syahril menegaskan bahwa kondisi arus sungai menjadi faktor utama kejadian tersebut.

“Korban terjatuh saat speed dihantam arus sungai dan hingga kini masih dalam pencarian,” katanya.

Lokasi kejadian berada di Sungai Sesayap, Desa Tideng Pale, dengan titik koordinat 3°35’39.16”N 116°59’31.26”E. Jarak tempuh dari Kantor SAR Tarakan menuju lokasi sekitar 37,84 nautical mile atau kurang lebih tiga jam perjalanan melalui jalur laut. Syahril menegaskan bahwa jarak tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan operasi.

“Lokasi kejadian cukup jauh dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dari Tarakan,” ujarnya.

Dalam operasi hari keenam, tim SAR gabungan melakukan pencarian dengan menyisir area yang telah ditentukan, meliputi titik A di 3°35’27.25”N 116°58’9.20”E, titik B di 3°33’23.22”N 117°40’13.24”E, titik C di 3°36’9.69”N 117°41’42.26”E, dan titik D di 3°36’9.51”N 116°58’15.76”E. Syahril memaparkan pembagian area ini dilakukan untuk memaksimalkan jangkauan pencarian.

Baca Juga :  Gubernur Zainal Pastikan Hari Raya Nyepi dan Takbiran Idulfitri Kondusif di Kaltara

“Pencarian dilakukan dengan membagi area menjadi beberapa titik koordinat untuk memperluas jangkauan,” paparnya.

Korban dalam kejadian ini diketahui bernama Firman (25), warga Kabupaten Tana Tidung, yang hingga kini masih dalam status pencarian. Tim SAR gabungan terus berupaya menemukan korban dengan berbagai metode pencarian di perairan sungai. Syahril menegaskan bahwa upaya pencarian belum dihentikan.

“Korban atas nama Firman hingga saat ini masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan,” terangnya.

Operasi SAR melibatkan berbagai unsur, di antaranya Kantor SAR Tarakan, BPBD Kabupaten Tana Tidung, Brimob Tana Tidung, Polairud Polres Tana Tidung, Pos TNI AL Bebatu, Bhabinkamtibmas Polsek Sesayap, serta keluarga dan masyarakat setempat. Sinergi ini dinilai penting untuk mempercepat proses pencarian. Syahril menegaskan pentingnya kerja sama lintas instansi tersebut.

Baca Juga :  Acuan Kalender Hijriyah Global Tunggal, Muhammadiyah Kaltara Tetapkan 1 Syawal Jumat

“Seluruh unsur yang terlibat bekerja secara terpadu dalam operasi ini,” tegasnya.

Dalam pelaksanaan operasi, tim SAR didukung oleh sejumlah peralatan seperti satu unit Rescue Dimex, satu unit rigid buoyancy boat, perlengkapan medis, serta empat unit alat komunikasi. Kondisi cuaca di lokasi dilaporkan cerah dan tidak terdapat hambatan berarti selama operasi berlangsung. Syahril menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat membantu tim di lapangan.

“Cuaca cerah dan tidak ada faktor penghambat menjadi kondisi yang mendukung proses pencarian,” bebernya.

Lebih lanjut, Syahril menerangkan operasi SAR memiliki standar waktu pelaksanaan selama tujuh hari. Apabila dalam kurun waktu tersebut korban belum ditemukan, maka operasi akan dihentikan sementara dengan kemungkinan dibuka kembali jika ada informasi baru.

“Sesuai standar operasi SAR, pencarian dilaksanakan selama tujuh hari dan dapat dibuka kembali apabila ada laporan atau tanda-tanda keberadaan korban,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *